Jakarta, FORTUNE — Industri petrokimia dan plastik nasional membutuhkan penguatan perlindungan pasar domestik serta penataan impor secara terukur untuk menjaga keberlangsungan produksi dalam negeri.
Banjir produk impor, khususnya produk jadi, dinilai tidak hanya menekan industri hilir, tetapi juga berdampak langsung terhadap utilisasi industri hulu dan keberlangsungan rantai pasok nasional.
Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono, tekanan impor saat ini semakin meluas ke berbagai produk petrokimia, mulai dari polyethylene (PE), polyvinyl chloride (PVC), polyethylene terephthalate (PET), hingga purified terephthalic acid (PTA).
“Indonesia masih membutuhkan impor karena kapasitas domestik belum menutup seluruh kebutuhan. Namun, impor yang terlalu agresif dapat menekan utilisasi produsen yang sudah ada,” ujar Fajar, (3/11).
Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari tingkat utilisasi industri hulu yang kini berada di bawah 70%. Sejumlah fasilitas produksi bahkan telah menghentikan operasionalnya.
Pada saat yang sama, produk impor asal Cina semakin menggerus pasar domestik dan mendorong produsen dalam negeri mengalihkan penjualan ke pasar ekspor.
Fajar menekankan perlunya penguatan instrumen pengamanan perdagangan untuk menciptakan level playing field bagi industri nasional, tanpa menghilangkan impor bahan baku dan produk yang memang masih dibutuhkan industri hilir.
“Perlindungan ini untuk menjaga level playing field tanpa menghilangkan impor yang masih dibutuhkan industri hilir,” katanya.