Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Danantara Investasi US$250 Juta ke Perusahaan Migas AS, Pengamat Ingatkan Hal Ini

4 min read
Danantara Investasi US$250 Juta ke Perusahaan Migas AS, Pengamat Ingatkan Hal Ini
ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Zbynek Burival)
  • Investasi US$250 juta Danantara di HighPeak Energy memiliki prospek, tetapi tingkat pengembalian, risiko, mitigasi, dan leverage perlu dihitung cermat.

  • Permian Basin menawarkan breakeven price rendah, produksi cepat, serta infrastruktur matang, namun menghadapi risiko produced water, flaring, dan penurunan produksi tinggi.

  • Investasi ini berpotensi menjadi pintu masuk transfer teknologi, efisiensi operasi, dan pengembangan kapasitas SDM migas Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Danantara Indonesia menyuntikkan investasi senilai US$250 juta di perusahaan migas Amerika Serikat, HighPeak Energy. Pengamat menilai, investasi tersebut memiliki prospek menarik. Namun, pengelola investasi negara tersebut tetap perlu menghitung secara cermat tingkat pengembalian investasi dan berbagai risiko agar penanaman modal di Permian Basin tidak berujung kerugian.

Dosen Praktisi, Teknik Kimia Universitas Indonesia (UI), Ardian Nengkoda mengatakan Permian Basin merupakan salah satu wilayah produksi migas paling kompetitif di dunia. Meski demikian, keputusan investasi harus didasarkan pada perhitungan keekonomian, risiko, mitigasi, dan leverage yang matang.

"Namun demikian, investment rate of return dan risk harus sudah dikalkulasi oleh Danantara agar tidak buntung," kata Ardian kepada Fortune Indonesia, Rabu (7/10).

Menurut Ardian, salah satu daya tarik Permian Basin adalah tingkat breakeven price yang relatif rendah, yakni sekitar US$35-US$45 per barel. Kondisi tersebut membuat investasi di kawasan ini lebih tahan terhadap volatilitas harga minyak dibandingkan proyek deepwater atau proyek migas konvensional baru yang membutuhkan waktu pengembangan lebih panjang.

Selain itu, sumur shale di Permian dapat dibor dan mulai berproduksi dalam hitungan bulan. Siklus produksi yang relatif cepat tersebut memungkinkan investor memperoleh arus kas lebih cepat dibandingkan proyek konvensional yang dapat membutuhkan waktu 5-10 tahun dari eksplorasi hingga produksi.

Permian Basin membentang di wilayah barat Texas dan tenggara New Mexico. Kawasan tersebut memiliki formasi batuan berlapis atau stacked pay zones, seperti Wolfcamp, Bone Spring, dan Spraberry, yang memungkinkan operator mengembangkan beberapa lapisan hidrokarbon dari wilayah permukaan yang sama.

Ardian yang juga Petroleum Consultant Saudi Aramco ini menilai keunggulan lain Permian terletak pada infrastruktur yang telah matang. Jaringan pipa minyak, gas, dan air terintegrasi menuju pusat pengilangan serta terminal ekspor di Gulf Coast sehingga dapat menekan biaya logistik dan mendukung efisiensi operasi.

  1. Tantangan utama di Permian Basin

    Ilustrasi pekerja minyak dan gas. qerja.com
    Ilustrasi pekerja minyak dan gas. qerja.com

    Namun, investasi di kawasan tersebut bukan tanpa risiko. Salah satu tantangan utama adalah pengelolaan produced water atau air asin dalam jumlah besar yang dihasilkan dari proses fracking. Air tersebut perlu dikelola, didaur ulang, atau diinjeksikan kembali dengan memperhatikan risiko aktivitas seismik.

    Tantangan lainnya adalah gas ikutan (associated gas) dan flaring. Ketika kapasitas pipa gas terbatas, operator dapat menghadapi tekanan untuk membakar gas yang dihasilkan bersamaan dengan minyak. Sementara itu, karakteristik sumur shale juga memiliki tingkat penurunan produksi yang tinggi.

    "Karakteristik alami sumur shale adalah penurunan produksi yang sangat tajam (high decline rate) di tahun pertama, bisa turun 60-70 persen. Operator harus terus mengebor sumur baru untuk mempertahankan tingkat produksi," kata Ardian.

    Karena itu, menurut dia, Danantara perlu memperhitungkan bukan hanya potensi produksi dan harga minyak, tetapi juga kebutuhan investasi berkelanjutan untuk pengeboran sumur baru serta biaya operasional dan mitigasi lingkungan.

    Danantara sebelumnya melalui holding investasinya, PT Danantara Investment Management (DIM), mengumumkan investasi strategis US$250 juta di HighPeak Energy melalui penerbitan saham preferen konvertibel (convertible preferred stocks) dalam beberapa tahap. HighPeak bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, dan eksploitasi migas di Permian Basin.

  2. Manfaat strategis bagi Indonesia

    ilustrasi kilang minyak
    ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Ali Mucci)

    Ardian menilai investasi tersebut juga dapat memberikan manfaat strategis bagi Indonesia apabila disertai transfer teknologi dan pengetahuan. Menurutnya, pengalaman Permian dapat dipelajari untuk meningkatkan produksi lapangan migas Indonesia yang telah memasuki fase matang.

    Teknologi horizontal drilling dan hydraulic fracturing, kata dia, berpotensi diterapkan di sejumlah lapangan mature Indonesia apabila kondisi reservoir mendukung. Teknologi tersebut juga relevan untuk pengembangan migas nonkonvensional (MNK), termasuk potensi shale oil dan shale gas di Indonesia.

    Meski demikian, Ardian mengingatkan Indonesia tidak bisa sekadar menyalin teknologi Permian. Karakteristik geologi, temperatur, tekanan, serta sifat batuan di Indonesia berbeda sehingga desain pengeboran dan rekahan harus disesuaikan melalui kajian geomekanika lokal.

    Menurutnya, pelajaran paling berharga dari Permian justru bukan semata teknologi pengeborannya, melainkan efisiensi operasi dan model bisnis. Industri di kawasan tersebut menerapkan konsep factory drilling model, di mana proses mobilisasi rig, pengeboran, hingga komplesi dilakukan secara terstandar, cepat, dan didukung otomatisasi serta analisis data.

    "Yang paling berharga untuk dipelajari Indonesia bukan hanya tentang mata bor atau fluida perekah, melainkan kombinasi antara efisiensi operasi (factory-model operations) dan model bisnisnya," kata Ardian.

    Ia menambahkan, pengelolaan rantai pasok, termasuk logistik pasir proppant, air, dan peralatan, juga menjadi bagian penting yang dapat dipelajari Indonesia untuk menekan biaya modal (capital expenditure/CAPEX).

    Pada akhirnya, Ardian melihat investasi HighPeak sebagai pintu masuk bagi Indonesia untuk memperoleh pengetahuan dan membangun kapasitas SDM di salah satu pusat inovasi migas dunia. Manfaat tersebut, menurut dia, dapat menjadi lebih strategis apabila talenta Indonesia mendapat kesempatan belajar langsung dari ekosistem Permian dan kemudian menerapkannya di dalam negeri.

    "Investasi Danantara di HighPeak Energy adalah pintu masuk (gateway) bagi Indonesia untuk menempatkan talenta terbaik kita di episentrum inovasi migas dunia, membawa pulang keahlian tersebut, dan menerapkannya demi menahan laju penurunan produksi (decline rate) migas nasional kita," tuturnya.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More