Jakarta, FORTUNE - Danantara Indonesia menyuntikkan investasi senilai US$250 juta di perusahaan migas Amerika Serikat, HighPeak Energy. Pengamat menilai, investasi tersebut memiliki prospek menarik. Namun, pengelola investasi negara tersebut tetap perlu menghitung secara cermat tingkat pengembalian investasi dan berbagai risiko agar penanaman modal di Permian Basin tidak berujung kerugian.
Dosen Praktisi, Teknik Kimia Universitas Indonesia (UI), Ardian Nengkoda mengatakan Permian Basin merupakan salah satu wilayah produksi migas paling kompetitif di dunia. Meski demikian, keputusan investasi harus didasarkan pada perhitungan keekonomian, risiko, mitigasi, dan leverage yang matang.
"Namun demikian, investment rate of return dan risk harus sudah dikalkulasi oleh Danantara agar tidak buntung," kata Ardian kepada Fortune Indonesia, Rabu (7/10).
Menurut Ardian, salah satu daya tarik Permian Basin adalah tingkat breakeven price yang relatif rendah, yakni sekitar US$35-US$45 per barel. Kondisi tersebut membuat investasi di kawasan ini lebih tahan terhadap volatilitas harga minyak dibandingkan proyek deepwater atau proyek migas konvensional baru yang membutuhkan waktu pengembangan lebih panjang.
Selain itu, sumur shale di Permian dapat dibor dan mulai berproduksi dalam hitungan bulan. Siklus produksi yang relatif cepat tersebut memungkinkan investor memperoleh arus kas lebih cepat dibandingkan proyek konvensional yang dapat membutuhkan waktu 5-10 tahun dari eksplorasi hingga produksi.
Permian Basin membentang di wilayah barat Texas dan tenggara New Mexico. Kawasan tersebut memiliki formasi batuan berlapis atau stacked pay zones, seperti Wolfcamp, Bone Spring, dan Spraberry, yang memungkinkan operator mengembangkan beberapa lapisan hidrokarbon dari wilayah permukaan yang sama.
Ardian yang juga Petroleum Consultant Saudi Aramco ini menilai keunggulan lain Permian terletak pada infrastruktur yang telah matang. Jaringan pipa minyak, gas, dan air terintegrasi menuju pusat pengilangan serta terminal ekspor di Gulf Coast sehingga dapat menekan biaya logistik dan mendukung efisiensi operasi.
