BUSINESS

Pandemi Belum Pulih, Merek Mewah Pangkas Proyeksi Bisnis di Cina

Dampak lockdown terus-menerus dan ketidakpastian.

Pandemi Belum Pulih, Merek Mewah Pangkas Proyeksi Bisnis di CinaIlustrasi gerai Louis Vuitton. Shuterstock/Sorbis

by Desy Yuliastuti

jakarta, FORTUNE - Penguncian wilayah atau lockdown akibat Covid-19 di Cina telah membawa dampak negatif pada bisnis. Menurut survei Oliver Wyman , merek-merek mewah telah memangkas ekspektasi bisnis mereka di Cina tahun ini setelah diberlakukan lockdown Covid-19 terbaru di negara itu.

Survei menunjukkan, perkiraan persentase pertumbuhan untuk merek mewah dan konsumen premium dipangkas sebesar 15 basis poin. Sementara untuk merek mewah saja, angkanya turun hampir 25 basis poin. Berbagai faktor turut mempengaruhi perhitungan bisnis brand mewah itu. 

Prediksi turun tajam

Suasana pusat berbelanjaan Mall Kuningan City di Jakarta, Selasa (10/8/2021).

Menurut survei, bisnis barang premium dan mewah sekarang hanya diperkirakan mencatatkan pertumbuhan 3 persen dalam basis setahun (tahun-ke-tahun/yoy) di Cina daratan untuk tahun ini. Angka ini turun tajam dari pertumbuhan 18 persen yang mereka perkirakan beberapa bulan lalu. Hasil itu berdasarkan rata-rata tertimbang dari hasil survei.

Oliver Wyman mengatakan, survei eksekutifnya pada Mei itu mencakup lebih dari 30 klien perusahaan konsultan di seluruh konsumen premium dan barang-barang mewah. Mereka mewakili lebih dari US$50 miliar atau sekitar Rp700 triliun dalam penjualan ritel.

Ketidakpastian kondisi

Shanghai, kota dengan produk domestik bruto terbesar di Cina dan pusat bisnis asing, menghadapi dampak negatif dari wabah Covid-19 di Cina musim semi ini. Wabah ini adalah yang terburuk di negara itu sejak pandemik pertama kali melanda pada awal 2020.

Akibat kondisi itu, pemerintah kota itu meminta orang-orang untuk tinggal di rumah dan sebagian besar bisnis tutup selama dua bulan, sebelum melakukan pembukaan kembali pada 1 Juni.

“Masih ada ketidakpastian yang sangat tinggi tentang apa yang akan menjadi [tindakan] Covid di masa depan di Cina,” kata Kenneth Chow, kepala sekolah di Oliver Wyman, mengutip CNBC, Kamis (23/6).

“Ada keraguan besar tentang apakah kepercayaan konsumen [dapat] pulih dengan cepat, seperti pada 2020 dan 2021,” katanya, menambahkan.

Penjualan ritel Cina anjlok

Penjualan ritel Cina anjlok 11,1 persen pada April dari tahun lalu, setelah mencatatkan kenaikan 3,3 persen selama tiga bulan pertama tahun ini. Pengeluaran konsumen di Cina disebut tidak pernah sepenuhnya pulih dari fase awal pandemik, dan ketika Covid-19 memasuki tahun ketiga, orang semakin khawatir tentang pendapatan di masa depan.

Tingkat pengangguran di 31 kota terbesar Cina melampaui level tertinggi 2020 mencapai 6,7 persen pada April. Angka ini adalah yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2018.

“Tampaknya kali ini, Gen Z yang makmur [berusia 25 atau lebih muda] mungkin bereaksi berbeda, terutama karena kurangnya keamanan kerja mungkin merupakan sesuatu yang harus mereka tangani untuk pertama kalinya,” kata laporan itu.

“Pandangan umum lainnya dari orang yang kami wawancarai adalah bahwa semakin lama pembatasan, semakin lama pemulihan yang akan datang akan berlangsung,” tambahnya.

Laporan juga menyebut bahwa di area yang tidak mengalami lockdown sekalipun, anekdot klien mengatakan lalu lintas di dalam toko turun lebih dari 50 persen, dan persentase pengunjung yang benar-benar melakukan pembelian turun hingga 30 persen.

Sementara untuk pertumbuhan di tahun depan, hanya 12 persen responden memprediksi bisnis Cina mereka tumbuh lebih dari 20 persen. Angka ini turun dari 40 persen responden sebelumnya.

“Merek rata-rata sekarang mengharapkan pertumbuhan 11 persen tahun depan dalam bisnis Cina daratan mereka, dengan hanya 6 persen tidak merencanakan pertumbuhan,” kata laporan itu.

Related Articles