Comscore Tracker
BUSINESS

Dalam Tiga Tahun Pertamina Cetak Laba Hingga US$6,1 Miliar

Keuntungan perusahaan terus tumbuh tiap tahun.

Dalam Tiga Tahun Pertamina Cetak Laba Hingga US$6,1 MiliarDok. Pertamina

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE –  PT Pertamina (Persero) tercatat untung US$6,1 miliar atau lebih dari Rp85 triliun dalam kurun 2018-2020. Pada 2018 perusahaan meraih laba US$2,5 miliar, dan setahun setelahnya juga mencetak profit US$2,5 miliar.

"Di tahun 2020 Pertamina menghadapi triple shock sebagai imbas dari pandemi. Meski demikian, Pertamina berhasil mencatat keuntungan sebesar US$1,1 miliar," kata VP Corporate Communcation Pertamina Fajriyah Usman dalam keterangannya, Kamis (3/2).

Fajriyah mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil kinerja luar biasa dari seluruh jajaran manajemen dan pekerja Pertamina selama pandemi berlangsung. 

"Hampir seluruh perusahaan di dunia merasakan dampak negatif akibat pandemi. Bahkan sebagian besar perusahaan migas global justru mengalami kerugian dan melakukan PHK banyak pekerjanya," kata Fajriyah.

Rasio utang perseroan terjaga

Tiga lembaga pemeringkat utang (credit rating agency) internasional menunjukkan Pertamina mampu mengelola keuangan dan investasi secara hati-hati sehingga termasuk dalam kategori perusahaan sehat.

Hingga kini, Pertamina mencatat rasio utang yang terjaga dengan baik dan masih kompetitif di antara perusahaan migas nasional maupun internasional. Karenanya, Moody's, S&P, dan Fitch menetapkan Pertamina pada peringkat investment grade masing-masing pada level baa2, BBB, dan BBB.

"Ini menunjukkan kredibilitas dan kepercayaan investor kepada Pertamina yang semakin meningkat dari waktu ke waktu," kata Fajriyah.

Pada 2020, perseroan telah menyelesaikan tiga corporate loan dengan total US$549 juta. Sementara itu, pada 2021 Pertamina mampu melunasi obligasi senilai US$391 juta.

“Saat ini rasio utang Pertamina terhadap ekuitas dari sisi keuangan masih dalam batas wajar sebagai perusahaan yang sehat. Begitu pula mekanisme yang dilakukan tetap mengacu pada regulasi yang ada,” kata Fajriyah.

Masuk jajaran perusahaan terbaik global

Pengakuan internasional atas kinerja keuangan Pertamina juga tampak pada prestasi sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang berada dalam daftar Fortune Global 500. Dengan kinerja keuangan tersebut, Pertamina mampu berkontribusi pada pendapatan Pemerintah hampir Rp200 triliun pada 2020 yang berasal dari setoran Pajak dan Dividen, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta penerimaan negara dari Minyak Mentah dan Kondesat Bagian Negara (MMKBN) dari blok-blok migas Pertamina.

Aksi perseroan perkuat industri migas nasional

Terkait proyek pembangunan kilang, sejak 2018 Pertamina sudah menggencarkannya. Di antaranya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balongan yang akan memberikan tambahan kapasitas produksi dari 125 ribu barel per hari menjadi 150 ribu barel per hari pada April 2022.

Sementara itu, proyek kilang RDMP Balikpapan kelak dapat menekan defisit neraca migas hingga US$2,65 miliar per tahun. Ini karena kilang sudah bisa menghasilkan produk bernilai jual tinggi seperti gasoline dengan kualitas Euro 5 dan propilena, produk petrokimia yang kebutuhannya masih sangat tinggi. Pertamina optimistis keseluruhan proyek RDMP Balikpapan selesai pada 2024.

Pada 9 Agustus 2020, Pertamina resmi mengelola Blok Rokan melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Dari Agustus 2021 hingga Desember 2021 pasca alih kelola, PHR WK Rokan berhasil mengebor 90 sumur tajak dan menaikkan tingkat produksi dari WK migas terbesar kedua di Tanah Air itu.

Dari sisi produksi, PHR WK Rokan berhasil mencapai tingkat produksi sekitar 162 ribu BOPD (barel minyak per hari), atau naik 4 ribu BOPD dibandingkan sebelum alih kelola yang berkisar 158 ribu BOPD. Kegiatan pengeboran sumur baru dan kerja ulang sumur lama terus dilakukan untuk meningkatkan produksi.

Produksi PHR WK Rokan menyumbangkan sekitar 25 persen dari total jumlah produksi minyak nasional dan merupakan salah satu tulang punggung upaya pencapaian target produksi nasional minyak 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (bscfd) pada 2030.

Related Articles