Eksperimen Nuanu Creative City, Kota Masa Depan di Tabanan

Jakarta, FORTUNE - Pengembangan kawasan terpadu di Bali terus bertambah, tetapi Nuanu City hadir dengan pendekatan yang berbeda. Proyek yang digagas sebagai ruang hidup, destinasi wisata, sekaligus pusat kreativitas ini tidak dibangun dengan pola konvensional. Menurut Lev Kroll, proyek tersebut sejak awal dirancang sebagai eksperimen jangka panjang untuk mencari cara baru dalam membangun kawasan yang selaras dengan alam, budaya, dan komunitas.
Alih-alih langsung membuka secara penuh, Nuanu dikembangkan secara bertahap. Pada 2024, pengelola memperkenalkan Tri Hita Karana Tower sebagai salah satu simbol awal proyek. Setahun kemudian, fase pertama mulai diperkenalkan kepada publik, meski belum sepenuhnya selesai. Tahun ini, kawasan tersebut ditargetkan siap menerima lebih banyak wisatawan, terutama untuk pengalaman singkat yang berfokus pada seni, budaya, dan alam.
“Kami memang membangun dalam fase. Lebih mudah menciptakan pengalaman satu hari yang baik daripada langsung membuat tempat tinggal yang sempurna untuk jangka panjang. Karena itu kami mulai dari kunjungan jangka pendek, sambil terus belajar,” kata Kroll, CEO Nuanu Creative City kepada Fortune Indonesia di Jakarta, (9/3).
Model bisnis kolaboratif
Nuanu tidak dirancang sebagai satu perusahaan besar yang mengelola semuanya sendiri. Infrastruktur dasar dibangun oleh pengembang, tetapi berbagai fasilitas di dalamnya akan diisi oleh mitra yang memiliki visi dan keahlian masing-masing.
Konsep ini disebut sebagai community for communities, di mana restoran, galeri, pusat pendidikan, hingga ruang kreatif dapat dikembangkan oleh tim yang berbeda. Menurut Kroll, pendekatan kolaboratif membuat kualitas lebih terjaga dibanding jika semua dikerjakan oleh satu organisasi.
“Kalau satu perusahaan mencoba melakukan semuanya, fokusnya akan terbagi. Kami lebih percaya pada banyak tim kecil yang punya passion kuat di bidangnya,” katanya.
Pendekatan tersebut juga membuat nilai proyek sulit dihitung secara sederhana. Sebagian investasi berasal dari pengembang, tetapi sebagian lain datang dari mitra yang membangun proyek mereka sendiri di dalam kawasan.

Membangun lebih sedikit
Secara keseluruhan, Nuanu Creative City adalah sebuah kawasan seluas 44 hektare yang memadukan vila, residensial, hotel mewah, ruang hiburan, lapangan olahraga, hingga pusat spiritual. Namun, salah satu prinsip utama Nuanu adalah menghindari pembangunan berlebihan.
Secara aturan, lahan yang dimiliki sebenarnya bisa dibangun hingga 60 persen, tetapi pengelola memilih menggunakan jauh lebih sedikit dan mempertahankan sebagian besar area sebagai ruang hijau.
Menurut Kroll, banyak kawasan wisata mengalami siklus yang sama: awalnya eksklusif, lalu berkembang pesat, kemudian terlalu padat dan akhirnya kehilangan daya tarik. Ia menilai hal itu sering terjadi di Bali. “Kalau semua lahan dipakai untuk bangunan, dalam jangka pendek mungkin menguntungkan. Tapi dalam jangka panjang nilainya justru turun, karena orang datang ke Bali untuk alam dan budaya,” ujarnya.
Dengan menjaga ruang hijau, pengembang berharap nilai ekonomi kawasan justru meningkat dalam waktu panjang.
Rencana jangka panjang
Meski sebagian fasilitas sudah dibuka, pengembangan Nuanu masih akan berlangsung beberapa tahun ke depan. Tahap konstruksi besar ditargetkan selesai sekitar 2027–2028, setelah itu fokus akan beralih pada pengembangan program, komunitas, dan kegiatan di dalam kawasan.
Bagi Kroll, proyek ini bukan sekadar investasi, melainkan upaya membangun tempat yang bisa bertahan lama.
“Kami merencanakan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana proyek ini terlihat sekarang, tetapi bagaimana anak-anak kita akan melihatnya nanti,” katanya.


















