Jakarta, FORTUNE — Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menghadapi tekanan baru seiring lonjakan harga bahan baku yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dunia hingga sekitar US$110 per barel ikut mendorong harga bahan baku utama tekstil hingga melonjak signifikan dalam waktu singkat.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, harga paraxylene—yang merupakan bahan baku utama polyester—telah mencapai sekitar US$1.300 per ton, naik sekitar 40 persen dalam dua pekan terakhir.
Ia mengatakan, dampak kenaikan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh industri hilir. Namun demikian, ia memperkirakan efek berantai (domino effect) yang akan terjadi secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan.
“Dalam satu minggu ke depan, kenaikan harga akan mulai dirasakan produsen kain, dan dua minggu berikutnya akan merambat ke sektor pakaian jadi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4).
Kenaikan biaya produksi diperkirakan akan berdampak pada harga jual produk di tingkat konsumen. APSyFI memproyeksikan penyesuaian harga di sektor ritel dapat mencapai sekitar 10 persen.
Di sisi lain, permintaan pasar dinilai masih relatif stabil, bahkan cenderung meningkat. Hal ini didorong oleh kenaikan harga bahan baku impor yang membuat produk berbasis bahan lokal menjadi lebih kompetitif.
“Hingga saat ini, pasokan bahan baku dalam negeri untuk polyester maupun rayon masih tersedia. Tidak ada kendala dari sisi barang, hanya harganya yang meningkat,” kata Redma.
Meski pasokan tersedia, tingkat utilisasi industri tekstil nasional masih belum optimal. APSyFI mencatat utilisasi produsen polyester saat ini masih di bawah 40 persen, sementara produsen rayon berada di kisaran 70 persen.
Rendahnya utilisasi ini menurutnya disebabkan oleh ketidakpastian pasar dan praktik perdagangan yang dinilai tidak adil di dalam negeri.
“Banyak pelaku industri yang sudah berhenti memilih tidak beroperasi kembali selama praktik unfair di pasar domestik masih terjadi,” ujarnya.
Produsen yang masih beroperasi saat ini cenderung hanya melayani pelanggan loyal, sementara konsumen yang sebelumnya bergantung pada bahan baku impor tidak menjadi prioritas.
