Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Induk Uniqlo Naikkan Proyeksi Laba Meski Ada Gonjang-Ganjing Timur Tengah
ilustrasi UNIQLO (instagram.com/uniqlo)
  • Fast Retailing, induk Uniqlo, mencatat lonjakan laba operasional 29,4% menjadi 189,8 miliar yen dan menaikkan proyeksi laba tahunan ke 700 miliar yen setelah melampaui ekspektasi analis.
  • Kinerja positif didorong ekspansi agresif di Amerika Utara dan Eropa dengan pertumbuhan penjualan 30–50% per tahun sejak 2022, meski pasar Cina mulai melambat.
  • Perusahaan menghadapi tekanan dari konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan biaya logistik, namun langkah antisipatif menjaga produksi serta distribusi tetap stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Peritel fesyen asal Jepang, Fast Retailing Co. Ltd., pemilik dan perusahaan induk Uniqlo, menaikkan proyeksi kinerja tahunannya setelah mencatat lonjakan laba kuartalan melampaui ekspektasi analis. Kenaikan kinerja keuangan ini terjadi seiring dengan menguatnya penjualan dan ekspansi Uniqlo di pasar internasional.

Dilansir dari Reuters, dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (9/4), Fast Retailing melaporkan laba kenaikan operasional 29,4 persen menjadi 189,8 miliar yen (sekitar US$1,19 miliar) pada periode tiga bulan yang berakhir Februari 2026. Sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan mencatat laba operasional 146,7 miliar yen.

Capaian tersebut melampaui konsensus analis yang memperkirakan laba operasional sebesar 161,6 miliar yen.

Sejalan dengan kinerja tersebut, perusahaan menaikkan proyeksi laba operasional tahunan menjadi 700 miliar yen, dari sebelumnya 650 miliar yen, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan mencatat rekor laba untuk lima tahun berturut-turut.

Kinerja positif Fast Retailing dalam beberapa tahun terakhir ditopang oleh ekspansi agresif di Amerika Utara dan Eropa.

Perusahaan mencatat pertumbuhan penjualan di kedua wilayah tersebut mencapai 30 hingga 50 persen per tahun sejak 2022. Dalam jangka menengah, pendapatan dari masing-masing wilayah ditargetkan meningkat hingga 3 triliun yen per tahun, jauh di atas posisi saat ini yang masih berada di kisaran ratusan miliar yen.

Saat ini, Uniqlo telah mengoperasikan lebih dari 2.500 toko di seluruh dunia, berkembang dari satu toko di Hiroshima pada 1984. Cina saat ini merupakan pasar luar negeri terbesar, dengan hampir 900 gerai, meski pertumbuhannya mulai melambat.

Risiko Geopolitik

Perusahaan mulai mengantisipasi tekanan dari faktor eksternal, khususnya akibat konflik di Timur Tengah sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan mengganggu rantai pasok global.

Chief Financial Officer Fast Retailing, Takeshi Okazaki, mengakui bahwa kondisi tersebut telah mulai mempersulit pengiriman udara dari basis produksi di Asia Tenggara ke Eropa.

“Jika situasi ini berlangsung lama, produk berbasis kimia yang bergantung pada minyak mentah tentu akan terdampak,” ujarnya.

Sejumlah pemasok juga mulai menaikkan harga. Teijin Frontier, salah satu pemasok utama, telah mengumumkan kenaikan harga serat polyester sebesar 20 persen akibat lonjakan harga minyak.

Kondisi ini berpotensi menekan industri ritel global. Sejumlah pemain besar seperti H&M dan jaringan ritel Inggris Co-op telah memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga dan melemahkan permintaan konsumen.

Bagi Uniqlo, yang dikenal dengan produk berbahan polyester seperti fleece dan pakaian kasual, kenaikan harga bahan baku menjadi perhatian utama investor ke depan.

Di sisi lain, kinerja di pasar Cina masih menghadapi tekanan akibat melemahnya sentimen konsumen. Perusahaan merespons dengan melakukan penutupan toko dan restrukturisasi bisnis.

Namun demikian, manajemen menyatakan bahwa langkah transformasi mulai menunjukkan hasil.

Sementara itu, rantai pasok global Fast Retailing juga menghadapi tekanan tambahan dari kebijakan tarif yang berubah-ubah, terutama dari Amerika Serikat, serta kenaikan biaya logistik akibat konflik geopolitik.

Pendiri Fast Retailing, Tadashi Yanai, menegaskan bahwa ketergantungan industri terhadap minyak membuat dampak gejolak geopolitik sulit dihindari. “Tanpa minyak, operasional tidak bisa berjalan. Situasi ini harus menjadi perhatian serius,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Fast Retailing menyatakan belum melihat dampak signifikan terhadap produksi dan logistik untuk tahun fiskal 2026 secara keseluruhan.

Saham perusahaan yang tercatat di Tokyo sempat melemah tipis sebelum pengumuman kinerja, namun secara year-to-date telah menguat lebih dari 18 persen. sepanjang 2026, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Sementara dilansir dari CNBC, Peritel tersebut mengakui bahwa konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan terhadap biaya, terutama melalui kenaikan ongkos transportasi di sejumlah pasar. Meski demikian, perusahaan menyatakan bahwa penyesuaian lebih awal pada sisi produksi dan logistik telah membantu meredam risiko gangguan rantai pasok.

“Dari perspektif produksi dan distribusi, dampaknya tidak akan signifikan,” tulis perusahaan dalam pernyataannya.

Fast Retailing sendiri mengelola sejumlah merek global, antara lain Uniqlo, GU, Theory, Comptoir des Cotonniers, dan PLST.

Editorial Team

EditorEkarina .