Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
RI Butuh 19 Ribu Alat Berat per Tahun, Bagaimana Potensi Investasinya?
Petugas menggunakan alat berat saat pemusnahan tepung daging dan tulang (meat bone meal) mengandung babi (porcine) di PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Klapanunggal, Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/7). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
  • Kebutuhan alat berat nasional mencapai 19 ribu unit per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 10 ribu unit, membuka peluang investasi besar di sektor ini.
  • Pemerintah menargetkan pengembangan industri alat berat untuk substitusi impor senilai US$1,67 miliar per tahun melalui peningkatan komponen lokal dan elektrifikasi alat berat.
  • Sejumlah investor global, terutama dari Cina, mulai melirik pembangunan pabrik alat berat di Indonesia guna memperkuat kapasitas produksi dan memperbaiki neraca perdagangan nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Karawang, FORTUNE – Kebutuhan alat berat di Indonesia diperkirakan mencapai 19.000 unit per tahun, sementara kapasitas produksi industri dalam negeri baru sekitar 10.000 unit untuk seluruh jenis alat berat. Kesenjangan pasokan tersebut membuka peluang investasi baru yang dinilai dapat memperkuat industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengatakan tingginya kebutuhan alat berat sejalan dengan pertumbuhan sektor-sektor utama seperti infrastruktur, pertambangan, perkebunan, dan kehutanan.

"Badan Pusat Statistik mencatat pada triwulan I-2026 pertumbuhan industri pengolahan nonmigas mencapai 5,14 persen. Sementara itu, subsektor industri mesin dan perlengkapan tumbuh 21,93 persen," kata Setia dalam acara peresmian pembangunan Indonesia Green Smart Industrial Park di Kawasan Industri Karawang Artha Industrial Hill, Jawa Barat, Rabu (22/7).

Pada periode sama, realisasi investasi pada industri mesin dan perlengkapan mencapai Rp10,14 triliun. Menurutnya, hal ini menunjukkan sektor tersebut menjadi salah satu motor penggerak manufaktur nasional.

Setia mengatakan industri permesinan memiliki peran strategis karena memasok berbagai mesin dan peralatan yang dibutuhkan sektor manufaktur, termasuk alat berat.

"Kebutuhan alat berat tahun ini diprediksi mencapai 19.000 unit, sementara kapasitas industri alat berat saat ini masih berada di angka 10.000 unit untuk seluruh tipe alat berat," katanya.

Dengan selisih kebutuhan sekitar 9.000 unit per tahun, pemerintah melihat masih terbuka ruang yang sangat besar bagi investor untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia.

Investasi berpotensi tekan impor US$1,67 miliar

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sepanjang 2026 investasi baru pada sektor alat berat dan komponennya telah mencapai sekitar US$209 juta. Nilai tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring masuknya investasi baru.

Setia mengatakan pengembangan industri alat berat tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menekan impor yang selama ini masih mendominasi kebutuhan pasar domestik.

"Investasi di sektor alat berat dan komponen berpotensi melakukan substitusi impor sebesar US$1,67 miliar per tahun," ujarnya.

Karena itu, pemerintah memfokuskan pengembangan industri alat berat pada substitusi impor, pendalaman struktur industri melalui peningkatan penggunaan komponen lokal, baik dalam skema completely knocked down (CKD) maupun incompletely knocked down (IKD), hingga pengembangan alat berat berbasis elektrifikasi yang memanfaatkan hilirisasi sumber daya alam.

Untuk menarik lebih banyak investasi, pemerintah menyiapkan berbagai insentif, antara lain pembebasan bea masuk atas impor mesin serta barang modal untuk pembangunan industri sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 176 Tahun 2009.

Selain itu, Kementerian Perindustrian juga menerbitkan Peraturan Dirjen ILMATE No.3/2026 mengenai perincian komponen utama sektor ILMATE sebagai acuan penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Investor Cina mulai melirik

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Edy Junaedi Harahap, mengatakan kesenjangan antara kebutuhan dan kapasitas produksi menjadi peluang investasi yang menarik bagi pelaku industri global.

Menurut dia, pembangunan pabrik alat berat di Indonesia tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapi juga membantu memperbaiki neraca perdagangan melalui pengurangan impor.

"Selama ini alat berat masih banyak diimpor. Kalau sekarang dibangun di Indonesia, tentu akan mengurangi impor. Ini bagus bagi pertumbuhan ekonomi nasional karena akan membantu memperbaiki neraca perdagangan," kata Edy.

Ia menyebut pemerintah telah menerima minat investasi dari sejumlah perusahaan, meski belum dapat mengungkapkan identitasnya karena masih dalam tahap persiapan.

"Ada beberapa yang sudah menyatakan keseriusan. Nanti kalau sudah groundbreaking baru bisa kami sampaikan," ujarnya.

Saat ditanya asal negara calon investor, Edy mengungkapkan mayoritas berasal dari Cina.

"Mereka sudah memiliki investasi smelter di Indonesia. Daripada terus mengimpor alat berat, tentu lebih baik jika fasilitas produksinya dibangun di sini," katanya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article