Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Vale Indonesia Raih Laba US$104,37 Juta per Akhir Juni, Naik 313%
Tibanya autoclave untuk proyek smelter Vale Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah. (Dok. Vale Indonesia)
  • PT Vale Indonesia membukukan laba bersih US$104,37 juta pada semester I 2026, melonjak 313,4% secara tahunan, sementara pendapatan naik 27,26% menjadi US$543,06 juta.
  • Pada kuartal II 2026, produksi nikel matte naik 19% secara kuartalan menjadi 16.153 ton; kenaikan harga realisasi dan penurunan biaya tunai turut mendongkrak profitabilitas.
  • EBITDA kuartal II tumbuh 45% menjadi US$116 juta. Vale merealisasikan belanja modal US$116 juta serta menerima autoclave untuk proyek HPAL Sambalagi di Morowali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meraih laba bersih sebesar US$104,37 juta pada semester-I 2026, bertumbuh 313,4 persen (YoY) dari US$25,24 juta.

Sejalan dengan itu, pendapatan INCO juga meningkat 27,26 persen (YoY) dari US$426,73 juta menjadi US$543,06 juta. Pertumbuhan itu diraih walaupun terdapat penurunan produksi pada semester-I 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kendati demikian, produksi nikel matte perseroan naik 19 persen secara kuartalan, dari 13.260 ton menjadi 16.153 ton.

Volume penjualannya sendiri mencapai 13.932 ton pada kuartal-II 2026, dari 13.727 ton pada kuartal sebelumnya. "Perseroan memperoleh manfaat dari kenaikan harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi US$14.765 per ton, naik 4 persen (QoQ), yang turut mendorong pendapatan mencapai US$290 juta atau naik 15 persen dibandingkan kuartal-I 2026," demikian dikutip dari keterangan resmi INCO, Kamis (30/7).

Dari sisi beban, biaya tunai pokok penjualan nikel matte berada di level US$10.005 per ton pada kuartal-II 2026, turun dari US$10.382 pada kuartal sebelumnya. Pada bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit adalah US$21 per ton di Bahodopi dan US$7 per ton di Pomalaa, yang termasuk biaya royalti dan logistik.

Secara khusus, operasi Pomalaa memperoleh manfaat dari optimalisasi biaya tunai yang lebih lanjut, didorong oleh peningkatan volume penjualan seiring kapasitas operasi yang terus meningkat.

EBITDA meningkat signifikan sebesar 45 persen secara triwulanan menjadi US$116 juta, mencerminkan peningkatan operating leverage dan profitabilitas perseroan.

Selama triwulan tersebut, INCO merealisasikan belanja modal sekitar US$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi serta pengembangan proyek-proyek pertumbuhan strategisnya.

Pada 30 Juni 2026, saldo kas dan setara kas tercatat sebesar US$$111 juta, dibandingkan US$220 juta pada 31 Maret 2026, hal ini terutama mencerminkan aktivitas investasi yang terus berlangsung selama periode tersebut.

Secara prospek, industri hilirisasi nkel Indonesia kembali masuk ke babak baru. Itu ditandai dengan tibanya autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi, komponen utama dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali milik perseroan.

“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus Irmanto, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article