Jakarta, FORTUNE – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah memperkuat struktur dana murah sekaligus menekan biaya dana (cost of fund) DPK secara signifikan. Itu merupakan buah dari upayanya mengintegrasikan ekosistem pembayaran digital pada segmen ritel.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa efisiensi ini berakar pada luasnya adopsi SuperApp BRImo. Hingga akhir 2025, basis pengguna BRImo tumbuh 18,9 persen (YoY) mencapai 45,9 juta, dengan nilai transaksi Rp7.076,9 triliun. Dengan kata lain, terjadi lonjakan 26,4 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“BRI mempercepat pertumbuhan CASA melalui optimalisasi digital channel seperti BRImo, BRILink, dan QRIS, serta peningkatan penetrasi pada klaster bisnis,” ungkap Hery dalam keterangan resminya, Kamis (5/2).
Ia menambahkan, pada segmen ritel fokus utamanya tetap pada pengembangan ekosistem pembayaran yang terintegrasi.
Laju positif juga terlihat pada performa QRIS BRI dengan sales volume yang meroket 100 persen (YoY) menjadi Rp85,6 triliun. Frekuensi transaksi melalui kanal ini juga dilaporkan tumbuh 127,5 persen (YoY) dengan total lebih dari 782,8 miliar transaksi.
Transformasi digital ini secara langsung mempertebal porsi giro dan tabungan (CASA) perseroan. Hasilnya, DPK BRI tumbuh 7,4 persen (YoY) menjadi Rp1.467 triliun dengan rasio CASA yang terjaga pada 70,6 persen per akhir 2025.
Terjaganya komposisi dana murah ini berdampak langsung pada efisiensi operasional. Cost of fund DPK BRI membaik menjadi 2,9 persen pada 2025, turun dari 3,1 persen pada akhir 2024.
