Jakarta, FORTUNE- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) meraup laba bersih Rp4,5 triliun sepanjang Januari-September 2026, turun 15,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut salah satunya disebabkan oleh pelemahan pendapatan bunga dan syariah bersih.
Di saat yang sama, pendapatan operasional dan kinerja kredit perusahaan justru menguat. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan bunga dan syariah bersih CIMB Niaga sekitar Rp9,86 triliun, turun 2,16 persen dibandingkan dengan posisi pendapatan bunga bersih periode yang sama tahun lalu sekitar Rp10,07 triliun.
Sementara itu, pendapatan operasional lainnya dari CIMB Niaga pun tumbuhdari Rp2,65 triliun menjadi Rp2,99 triliun sampai September 2026. Keuntungan dari instrumen keuangan bersih lainnya naik dari Rp796 miliar menjadi Rp2,43 triliun. Sementara itu laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/”PPoP”) tetap stabil sebesar Rp8,2 triliun.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan hingga kuartal III 2026 industri perbankan masih dihadapi oleh dinamika ekonomi yang menantang. Perusahaan berupaya menjaga kinerja bisnis, salah satunya pengelolaan biaya yang disiplin, serta fokus pada efisiensi operasional.
"Meskipun profitabilitas menghadapi tantangan karena tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit, kami tetap mampu menjaga kondisi keuangan yang solid," ujar Lani dalam keterangannya, Rabu (28/9).
Dari kinerja intermediasi, CIMB Niaga menyalurkan total kredit/pembiayaan Rp242,6 triliun, tumbuh 6,7 persen secara tahunan. Berdasarkan segmennya, kucuran kredit perbankan korporasi mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 15,1 persen YoY, perbankan komersial naik 6,4 persen secara tahunan, dan Usaha Menengah dan Kecil meningkat 1,9 persen persen secara tahunan.
Menurut Lani, pertumbuhan pembiayaan didukung langkah strategis dalam mengoptimalkan komposisi portofolio, dengan meningkatkan fokus pada segmen bisnis yang memberikan imbal hasil lebih baik.
Dari sisi pendanaan, DPK CIMB Niaga terkumpul Rp273,7 triliun. Perolehan tersebut didukung pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 4,4 persen secara tahunan menjadi Rp197,0 triliun, alhasil rasio CASA meningkat ke level 72,0 persen.
Dari sisi permodalan dan likuiditas, CIMB Niaga membukukan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio yang soliod sebesar 23,7 persen. Kemudian loan to deposit ratio (LDR) masing-masing 87,7 persen. Total aset konsolidasian sebanyak Rp384,8 triliun, naik 4,2 persen YoY per 30 September 2026.
Sementara itu, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga membukukan total pembiayaan Rp49,4 triliun dan DPK tercatat sebesar Rp52,5 triliun.
Bank swasta terbesar kedua itu menyatakan mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Hingga sembilan bulan pertama 2026, total pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp65 triliun atau setara 26,6 persen dari total portofolio pembiayaan Bank.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh permintaan sustainability-linked financing, produk yang ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan sumber daya, serta transportasi berkelanjutan.
Guna menghadapi dinamika perekonomian dan tantangan profitabilitas jangka pendek, perseroan akan terus memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga efisiensi biaya.
