KB Bank Siapkan Capex IT Rp200 Miliar, Percepat Transformasi Digital

- KB Bank menyiapkan capex IT Rp200 miliar pada 2026 untuk pemeliharaan sistem inti perbankan dan percepatan transformasi digital setelah menyelesaikan proyek NGBS senilai Rp1,2 triliun.
- Transformasi bisnis diarahkan memperkuat sinergi antara segmen wholesale dan retail agar saling mendukung dalam memperluas basis nasabah melalui layanan seperti mortgage dan payroll.
- KB Bank mulai menerapkan AI secara bertahap untuk efisiensi operasional, dengan fokus pada tata kelola, keamanan data, serta kepatuhan regulasi sebelum memperluas implementasinya.
Jakarta, FORTUNE – PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp200 miliar pada 2026 untuk memperkuat transformasi digital. Anggaran tersebut difokuskan pada pemeliharaan sistem inti perbankan (Next Generation Banking System/NGBS) sekaligus pengembangan kapabilitas digital yang menjadi salah satu prioritas strategis perseroan.
Direktur Keuangan KB Bank, Jang Hyuk Im, mengatakan investasi teknologi tahun ini memasuki fase yang berbeda setelah perseroan menyelesaikan implementasi NGBS melalui skema big bang pada tahun lalu. Total investasi yang telah dikucurkan untuk proyek tersebut mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
“Di tahun lalu kami sudah menyelesaikan pengembangan NGBS melalui big bang. Investasi capex untuk NGBS/IT sekitar Rp1,2 triliun,” kata Jang dalam KB Bank Business Update: Memperkuat Transformasi dan Arah Pertumbuhan di Jakarta, Kamis (2/7).
Dengan fondasi sistem yang telah terbangun, perusahaan kini mengalihkan fokus belanja teknologi dari pembangunan infrastruktur menuju pemeliharaan platform serta percepatan digitalisasi di seluruh lini bisnis.
“Bagi kami saat ini yang paling penting dari sisi KPI secara bankwide itu adalah untuk terus melakukan digital transformasi sehingga ke depannya fokus utama kami itu adalah untuk bisa menjalankan digital transformasi,” ujarnya.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi KB Bank untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat kualitas layanan kepada nasabah. Hingga akhir 2025, bank ini mengelola aset sebesar Rp89,8 triliun dengan jaringan 153 kantor layanan yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. KB Bank juga didukung dua entitas anak, yakni KB Bukopin Finance dan KB Bank Syariah.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, mengatakan transformasi bisnis juga diarahkan untuk memperkuat sinergi antara bisnis wholesale dan retail, sehingga keduanya dapat saling mendukung dalam memperluas basis nasabah.
Menurutnya, hubungan dengan nasabah korporasi dapat dikembangkan menjadi peluang pada segmen individu, misalnya melalui program fasilitas kredit kepemilikan rumah (mortgage) bagi karyawan maupun layanan payroll. Sebaliknya, nasabah prioritas yang memiliki perusahaan juga dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan bisnis wholesale.
"Jadi itu adalah salah satu contoh bagaimana mereka saling berkolaborasi, supaya tidak jalan masing-masing," ujarnya.
Di sisi lain, KB Bank juga mulai memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam berbagai proses operasional. Namun, implementasinya dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan tata kelola, keamanan data, serta kepatuhan terhadap regulasi.
Direktur Wholesale KB Bank, Widodo Suryadi, mengatakan AI telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi industri perbankan. Kendati demikian, perusahaan memilih pendekatan quality first, then scale dengan memastikan setiap implementasi mampu memberikan manfaat nyata sebelum diperluas.
“Adopsi AI di perbankan itu sebagai suatu keniscayaan, bukan lagi kebutuhan. Tetapi kami tidak langsung adopsi itu secara masif dan instan. Kami melihat terlebih dulu implementasi AI mana yang bisa benar-benar memberikan dukungan nyata, dampak nyata,” katanya, menjelaskan.
Saat ini, teknologi AI telah digunakan untuk berbagai fungsi, mulai dari optical character recognition (OCR) dalam pembacaan laporan keuangan, analisis mutasi rekening koran, deteksi fraud, hingga mendukung analisis kelayakan kredit untuk segmen UMKM, kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit pensiunan.
Widodo menambahkan, perluasan pemanfaatan AI baru akan dilakukan setelah kesiapan infrastruktur dan tata kelola data dinilai memadai. Selain itu, kepatuhan terhadap ketentuan regulator, termasuk aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tetap menjadi prasyarat utama.
“Keberhasilan adopsi AI itu tidak diukur dari seberapa masif penerapannya, tetapi dari seberapa besar dampak yang bisa diberikan untuk meningkatkan kualitas keputusan bisnis dan customer experience,” ujarnya.
Transformasi digital KB Bank juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang KB Financial Group (KBFG), grup keuangan asal Korea Selatan yang memiliki total aset dan aset kelolaan sekitar US$942 miliar, melayani 38,7 juta nasabah melalui lebih dari 2.000 jaringan di Korea Selatan dan 14 negara.
Kunardy mengatakan Indonesia menempati posisi strategis dalam ekspansi global KBFG. Menurutnya, Indonesia telah ditetapkan sebagai second mother market, atau pasar prioritas utama di luar Korea Selatan, sehingga menjadi salah satu motor pertumbuhan grup di kawasan.
"Indonesia adalah market potensial, jumlah penduduk yang besar, itulah yang menjadi fokus dari KB Financial Group di Indonesia," ujarnya.

















