Jakarta, FORTUNE - Fasilitas kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan perbankan terus meningkat. Bank Indonesia mencatat per Juli 2026, undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.548 triliun atau meningkat 7,80 persen dibandingkan Juli 2025 sebesar Rp2.364 triliun.
Adapun, jumlah tersebut setara dengan sekitar 21,81 persen plafon kredit nasional yang tersedia.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan fasilitas yang belum ditarik debitur disebabkan oleh beberapa pertimbangan, termasuk siklus bisnis, progress penyelesaian arus kas perusahaan debitur, hingga kenaikan suku bunga seiring penyesuaian BI rate.
"Debitur lebih berhati-hati dalam menarik fasilitas kredit karena meningkatnya biaya pendanaan dan tekanan terhadap profitabilitas usaha," ujar Dian dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).
Ia menyebut, sektor industri pengolahan dan perdagangan menjadi sektor dengan porsi undisbursed loan terbesar, seiring tingginya kebutuhan fasilitas kredit yang disediakan perbankan untuk mendukung aktivitas usaha.
Namun, perlambatan permintaan membuat kebutuhan pendanaan sejumlah pelaku usaha ikut menurun. Akibatnya, fasilitas kredit yang telah tersedia belum seluruhnya ditarik oleh debitur.
"Dengan demikian, besarnya UL tidak mengindikasikan keterbatasan dari sisi bank dalam menyalurkan kredit, tetapi juga mencerminkan keputusan dan kebutuhan pembiayaan dari sisi debitur," ujar Dian.
Menurutnya, insentif likuiditas tetap diperlukan untuk memberikan ruang bagi perbankan dalam mengelola likuiditas dan menyalurkan kredit. Namun, tambahan likuiditas tidak otomatis berubah menjadi kredit baru karena penyaluran tetap bergantung pada permintaan pembiayaan dari pelaku usaha.
Besarnya UL dinilai justru menunjukkan perbankan nasional masih memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pembiayaan produktif dan mendorong pertumbuhan sektor riil.
"Kami menilai pertumbuhan UL ke depan diperkirakan akan mengalami moderasi seiring penyesuaian strategi bisnis perbankan dan meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional," pungkas Dian.
