Survei BI Ungkap Harga Properti Tumbuh Terbatas, Penjualan Turun

BI mencatat pertumbuhan harga properti residensial primer melambat menjadi 0,58 persen secara tahunan pada triwulan III-2026, dengan IHPR mencapai 111,02.
Perlambatan dipengaruhi harga rumah menengah dan besar; dari 18 kota survei, tujuh kota melambat dan Yogyakarta mencatat penurunan harga 0,05 persen secara tahunan.
Penjualan properti primer terkontraksi 8,43 persen secara tahunan di seluruh tipe rumah, sementara KPR mendominasi metode pembelian dengan pangsa 70,68 persen.
Jakarta, FORTUNE — Bank Indonesia (BI) melaporkan perlambatan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III-2026.
Laporan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) berada pada level 111,02. Angka ini mencatatkan pertumbuhan 0,58 persen secara tahunan (YoY).
Pencapaian tersebut berada di bawah angka pertumbuhan triwulan II-2026 yang tercatat sebesar 0,69 persen (YoY).
Pergerakan harga rumah tipe menengah dan besar menjadi pendorong perlambatan indeks tersebut. Rumah tipe menengah mencatatkan indeks 114,15 dengan pertumbuhan 0,63 persen (YoY).
Rumah tipe besar mencatatkan indeks 108,50 dengan pertumbuhan 0,57 persen (YoY). Pertumbuhan kedua kategori bangunan ini menurun jika dibandingkan dengan capaian triwulan II-2026.
“Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 7 kota diantaranya mengalami perlambatan pertumbuhan dan 1 kota mengalami penurunan IHPR secara tahunan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (6/11).
Kota Pontianak menjadi salah satu wilayah dengan perlambatan pertumbuhan harga. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan 1,49 persen (YoY) pada triwulan III-2026, turun dari angka pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,35 persen (YoY).
Harga hunian di Kota Yogyakarta mengalami penurunan 0,05 persen (YoY) setelah mencatatkan pertumbuhan 0,77 persen (YoY) pada triwulan II-2026.
Dari sisi volume, realisasi penjualan properti residensial di pasar primer secara keseluruhan mengalami penurunan. Penjualan pada triwulan III-2026 terkontraksi 8,43 persen (YoY). Angka kontraksi ini bertambah dibandingkan dengan catatan triwulan II-2026 yang sebesar 2,36 persen (YoY).
Penurunan angka penjualan terjadi pada seluruh kategori hunian. Penjualan rumah tipe besar terkontraksi 10,78 persen (YoY). Penjualan rumah tipe kecil terkontraksi 4,95 persen (YoY), memburuk dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 2,88 persen (YoY).
Penjualan rumah tipe menengah terkontraksi 15,42 persen (YoY), turun dari kontraksi triwulan sebelumnya yang sebesar 10,51 persen (YoY).
Terkait metode transaksi, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mendominasi pilihan konsumen dalam pembelian hunian di pasar primer. Skema ini memiliki pangsa 70,68 persen dari total metode pembelian.
Skema pembayaran tunai bertahap mencatatkan pangsa 20,96 persen. Skema pembayaran tunai mencatatkan pangsa 8,37 persen.




















