Meleset dari Target, Purbaya Laporkan Defisit APBN 2025 Sentuh 2,92%

- Defisit APBN 2025 mencapai 2,92% terhadap PDB atau sebesar Rp695,1 triliun
- Pendapatan negara melalui pajak capai Rp2.217,9 triliun, sementara belanja negara di 2025 mencapai Rp3.451,4 triliun
- Keseimbangan primer mencapai Rp180,7 triliun, jauh lebih tinggi dari target dalam APBN 2025 senilai Rp63,3 triliun
Jakarta, FORTUNE – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 2,92 persen terhadap PDB atau sebesar Rp695,1 triliun hingga akhir 2025. Capaian ini meleset dari target awal yang dicanangkan mencapai 2,78 persen.
Purbaya tak memungkiri bahwa level defisit ini hampir mendekati batas aman yang telah ditetapkan oleh UU Keuangan Negara yakni sebesar 3 persen dari PDB. Namun demikian, pihaknya tetap memprioritaskan belanja guna mendorong ekonomi nasional.
"Kenapa belanja tidak dipotong supaya defisit tetap kecil? Kita tahu, ekonomi sedang down, kita harus berikan stimulus. Ini wujud komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh,” kata Purbaya di Kantor Kemenkeu Jakarta, Kamis (8/1).
Pendapatan negara melalui pajak capai Rp2.217,9 triliun

Purbaya menjelaskan, defisit itu terjadi lantaran anggaran belanja yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan negara. Tercatat, belanja negara di sepanjang 2025 mencapai Rp3.451,4 triliun.
Belanja tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat meliputi belanja kementerian/lembaga (K/L) yang mencapai Rp1.500,4 triliun sedangkan untuk non K/L sebesar Rp1.102,0 triliun. Serta, tranfer ke daerah mencapai Rp849 triliun.
Sementara itu, pendapatan negara tercatat hanya senilai Rp2.756,3 triliun. Pendapatan kas negara ini terdiri dari penerimaan perpajakan senilai Rp2.217,9 triliun dan penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp534,1 triliun serta hibah senilai Rp4,3 triliun.
Secara keseluruhan, Purbaya mengklaim pengelolaan anggaran negara masih aman yang tercermin dari defisit keseimbangan primer yang mencapai Rp180,7 triliun, jauh lebih tinggi dari target yang dipatok dalam APBN 2025 senilai Rp63,3 triliun. Keseimbangan primer mencerminkan kemampuan negara mengelola utang.

















