Bank Mandiri Kantongi Laba Rp4,65 Triliun pada Januari 2026

Pertumbuhan itu terjadi berkat peningkatan pendapatan bunga bersih dan fee based income.
Kredit Bank Mandiri naik 15,62 persen menjadi Rp1.511,4 triliun dengan rasio NPL stabil pada 0,97 persen.
Dana pihak ketiga mencapai Rp1.635,5 triliun atau naik 17,29 persen secara tahunan.
Jakarta, FORTUNE – Bank Mandiri mencatatkan start impresif pada awal tahun buku 2026. Bank berkode emiten BMRI ini membukukan laba bersih Rp4,65 triliun pada Januari 2026, alias tumbuh 16,25 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) ketimbang periode sama tahun lalu.
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh penguatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang meningkat 10,2 persen (YoY).
Selain itu, pendapatan non-bunga yang bersumber dari Fee Based Income (FBI) recurring turut menanjak 16,1 persen (YoY).
“Kami memastikan akselerasi yang bertumbuh tetap berjalan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan,” ujar Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (23/2).
Dari sisi intermediasi, Mandiri menyalurkan kredit Rp1.511,4 triliun pada Januari 2026 (bank only), atau terakselerasi 15,62 persen (YoY).
Ekspansi pembiayaan ini dibarengi dengan kualitas aset yang terjaga, sebagaimana tecermin pada rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada level 0,97 persen, atau turun 3 basis poin (bps) secara tahunan.
Indikator efisiensi juga menunjukkan tren positif dengan penurunan biaya kredit atau Cost of Credit (CoC) sebesar 21 bps (YoY) ke posisi 0,35 persen. Novita menilai capaian tersebut mencerminkan kemampuan bank dalam melakukan ekspansi bisnis yang berkualitas pada awal tahun.
Di sektor digital, Bank Mandiri terus memperlebar jangkauan ekosistemnya. Volume transaksi melalui aplikasi Livin’ by Mandiri melonjak 49,3 persen (YoY), disusul penguatan aktivitas pada platform wholesale Kopra by Mandiri sebesar 27 persen (YoY).
Stabilitas likuiditas juga menjadi kunci performa perseroan, dengan raihan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.635,5 triliun (bank only), tumbuh 17,29 persen (YoY). Struktur pendanaan ini masih didominasi dana murah dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) yang konsisten pada level 73 persen.
Strategi optimalisasi dana murah tersebut berhasil menekan biaya dana sekaligus mendukung pertumbuhan total aset menjadi Rp2.191,9 triliun, atau naik 13,96 persen (YoY) pada Januari 2026.
















