Comscore Tracker
FINANCE

Laba BRI Melonjak 106% jadi Rp39,31 triliun, Ini Penopangnya

Kredit BRI mampu tumbuh 7,9%.

Laba BRI Melonjak 106% jadi Rp39,31 triliun, Ini PenopangnyaJajaran Direksi BRI pada Paparan Kinerja Keuangan Kuartal III-2022 (16/11)/ Dok BRI

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE - Di tengah kondisi perekonomian dunia yang penuh dengan tantangan, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mampu menjaga fundamental kinerja keuangan yang positif. 

Hal tersebut tercermin dari capaian laba bersih secara konsolidasian sepanjang kuartal III-2022 yang mencapai Rp39,31 triliun atau melonjak 106,14 persen secara year on year (yoy). 

Sunarso mengungkapkan kunci dari pencapaian tersebut tak lepas dari strategic response BRI yang tepat pada berbagai kondisi ekonomi. Hal itu juga didorong oleh fungsi intermediary penyaluran kredit maupun penghimpunan dana masyarakat yang tumbuh positif. 

"Kami dapat menjaga sustainability pertumbuhan ini dengan fokus pada aspek likuiditas terutama pertumbuhan dana murah, serta menjaga kualitas aset, terutama kredit yang kami restrukturisasi akibat pandemi Covid-19," kata Sunarso melalui konferensi video di Jakarta, Rabu (16/11).

Kredit BRI mampu tumbuh 7,9%

Dari aspek penyaluran kredit, hingga akhir September 2022, total kredit dan pembiayaan BRI Group tercatat sebesar Rp1.111,48 triliun atau tumbuh 7,92 persen (yoy). Secara khusus, portofolio kredit UMKM BRI tercatat meningkat sebesar 9,83 persen (yoy) dari Rp852,12 triliun di akhir September 2021 menjadi Rp935,86 triliun di akhir September 2022. Hal ini menjadikan proporsi kredit UMKM dibandingkan total kredit BRI terus meningkat, menjadi sebesar 8,2 persen. 

Apabila dirinci lebih detail, portofolio kredit segmen mikro BRI tercatat tumbuh 14,12 persen (yoy), segmen konsumer tumbuh 7,55 persen (yoy), segmen kecil & menengah tumbuh 2,89 persen (yoy), dan segmen korporasi terkontraksi 1,24 persen (yoy), di mana hal tersebut selaras dengan upaya BRI untuk terus meningkatkan porsi kredit UMKM hingga mencapai 85 persen. 

“Peran aktif BRI dengan memberdayakan dan mendorong UMKM untuk terus tumbuh maka akan membuka dan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, mengingat 97% lapangan pekerjaan di Indonesia berasal dari segmen UMKM,” ujar Sunarso. 

Keberhasilan BRI dalam menjalankan fungsi intermediasi mampu diimbangi dengan manajemen risiko yang baik. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL BRI secara konsolidasian yang manageable di level 3,09 persen. 

Di sisi lain, BRI menyiapkan pencadangan yang cukup sebagai langkah antisipatif. NPL Coverage BRI tercatat sebesar 278,79 persen, yang mana angka ini meningkat dibandingkan dengan NPL Coverage di akhir Kuartal III tahun lalu yang sebesar 252,86 persen.

DPK BRI tumbuh tipis 0,35%

uang rupiah

Dalam hal penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI berhasil mencatatkan kinerja positif meski pertumbuhan tipis. 

Hingga akhir Kuartal III-2022, BRI mampu membukukan DPK senilai Rp1.139,77 triliun, tumbuh positif 0,35 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2021 senilai Rp1.135 triliun. 

Sunarso menjelaskan, dana murah (CASA) menjadi pendorong utama pertumbuhan DPK BRI, yang mana secara year on year meningkat sebesar 10,22 persen. Apabila dirinci, Giro tercatat tumbuh 18,99 persen dan Tabungan tumbuh 6,37 persen. 

"Secara umum saat ini proporsi CASA BRI konsolidasian tercatat 65,43 persen, meningkat signifikan dibandingkan dengan CASA pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 59,6 persen," kata Sunarso. 

Hal tersebut memberikan dampak positif diantaranya dari beban bunga yang tercatat menurun sebesar 9,12 persen secara (yoy) dan biaya dana (Cost of Fund) BRI secara konsolidasian juga terus turun menjadi sebesar 1,94 persen. 

Kemampuan BRI dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan juga didukung dengan likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat. Hal ini terlihat dari LDR bank secara konsolidasian yang terjaga di level 88,51 persen dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,14 persen. Dengan kondisi tersebut, lanjut Sunarso, total aset dari BRi juga mampu meningkat 4 persen yoy menjadi Rp1.684,60 triliun.

Related Articles