Jakarta, FORTUNE - Peringatan Hari Bumi pada 22 April menjadi momentum bagi MOP Beauty untuk menegaskan arah bisnis berbasis keberlanjutan. Jenama yang didirikan oleh Tasya Farasya ini mengembangkan berbagai inisiatif pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular yang kini mulai menunjukkan dampak terukur.
Tasya Farasya, CEO & Founder MOP Beauty, mengatakan mengusung pendekatan ESG (Environmental, Social, Governance), MOP Beauty menempatkan sustainability bukan sekadar kampanye, melainkan sistem yang terintegrasi dalam operasional bisnis dan interaksi dengan konsumen.
Filosofi ini tercermin dari berbagai program yang mengajak komunitas terlibat langsung dalam pengelolaan limbah kecantikan.
“Melalui setiap inisiatif, kami ingin membuat langkah kecil terasa nyata dan berdampak. Kami percaya masa depan industri kecantikan harus dibangun dengan tanggung jawab yang sama besarnya dengan kreativitas. Harapan kami, langkah-langkah ini bisa mendorong lebih banyak pihak untuk bergerak bersama,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (22/4).
Sejak 2022, perusahaan mulai mendorong pengelolaan limbah melalui program pengumpulan kemasan kosong (beauty empties) di berbagai drop point. Inisiatif ini dijalankan bersama Zero Waste Indonesia dan Lyfe With Less, sekaligus memberikan insentif kepada konsumen dalam bentuk produk sebagai bentuk partisipasi aktif.
Komitmen tersebut kemudian diperluas melalui kolaborasi sirkular dengan Olah Plastic, yang mengolah limbah plastik menjadi merchandise dan PR gifts. Hingga kini, lebih dari 1.000 produk berbasis material daur ulang telah digunakan dalam berbagai aktivitas brand, sebagai strategi dalam memperpanjang siklus hidup material.
Langkah ESG MOP Beauty semakin terstruktur dengan peluncuran waste station pertama di gedung RDTX Jakarta pada Februari 2025, hasil kolaborasi dengan Rekosistem. Fasilitas ini menjadi tonggak penting sebagai salah satu infrastruktur pengelolaan limbah kecantikan yang dibangun oleh merek lokal.
Sejak beroperasi, fasilitas tersebut mencatat capaian signifikan. Total sampah yang terkumpul mencapai 33,035 ton atau setara 231 persen dari target awal 14,3 ton dalam satu tahun. Selain itu, tercatat lebih dari 3.297 kali waste drop dengan partisipasi 541 pengguna aktif.
Dampak lingkungannya juga terukur. Inisiatif ini berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 20.777 kg CO₂, setara dengan penanaman lebih dari 350 bibit pohon, serta menghindari lebih dari 83.000 km perjalanan kendaraan dan menghemat lebih dari 8.800 liter bahan bakar.
“Industri kecantikan tidak bisa lagi bergantung hanya pada pendekatan yang linear, di mana produk berakhir sebagai limbah tanpa sistem yang jelas. Tanpa itu, inisiatif keberlanjutan akan berhenti di niat,” ujar Brena Dwita Budiarti, COO MOP Beauty.
Memperluas dampak sosial, MOP Beauty menghadirkan waste station kedua di Universitas Katolik Parahyangan pada Maret 2026. Dalam waktu satu bulan, fasilitas ini berhasil mengumpulkan 971,42 kg sampah melalui 112 kali waste drop dengan partisipasi 90 pengguna, mencerminkan tingginya keterlibatan generasi muda dalam isu keberlanjutan.
Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor juga diperkuat melalui program Journey into Sustainability: Waste to Worth bersama Liberty Society. Program ini menjadi bagian dari rangkaian ARTCYCLE di ASHTA District 8, yang menghadirkan drop point terbuka bagi publik untuk mengelola limbah kecantikan dari berbagai merek.
Seluruh kemasan yang terkumpul akan diproses lebih lanjut bersama Rekosistem untuk memastikan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan.
Tasya mengatakan, perusahaan berencana memperluas infrastruktur, kolaborasi, dan inovasi produk berbasis ESG, seiring pergeseran industri kecantikan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
