Jakarta, FORTUNE - Harga bitcoin merosot lebih dari 5 persen hingga jatuh ke bawah US$65.000 pada perdagangan Senin. Tekanan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana menaikkan tarif global menjadi 15 persen. Pelemahan bitcoin terjadi di saat bursa saham Asia justru menguat pada awal pekan.
Melansir CNBC, situasi tersebut mencerminkan perbedaan arah pergerakan antara pasar kripto dan pasar saham kawasan, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global. Sejak Oktober 2025, bitcoin telah mengalami gelombang aksi jual setelah sempat menembus level US$125.000. Tren penurunan itu berlanjut hingga memasuki awal tahun ini.
Secara kumulatif, mata uang kripto terbesar di dunia tersebut telah terkoreksi sekitar 26 persen sepanjang tahun berjalan dan anjlok lebih dari 47 persen dibandingkan posisi tertingginya pada Oktober lalu.
Chief Operating Officer perusahaan teknologi blockchain global BTSE, Jeff Mei, menilai kebijakan tarif menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan jual. “Kami percaya bahwa lonjakan mendadak tarif menyebabkan investor menjual aset kripto karena mengantisipasi penurunan pasar yang lebih serius,” ujarnya.
Di luar isu tarif, perhatian investor juga tertuju pada meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Menurut Jeff Mei, pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di sekitar Iran memicu kekhawatiran akan potensi konflik bersenjata yang dapat berdampak pada perdagangan global. Trump sebelumnya mengisyaratkan akan mengambil keputusan dalam waktu 10 hari terkait kemungkinan serangan terhadap Iran.
Sementara itu, Kepala Riset platform intelijen pasar 10x Research, Markus Thielen, menilai koreksi bitcoin kali ini tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Ia menyebut pelemahan lebih dipengaruhi kondisi likuiditas yang menipis serta merosotnya kepercayaan pasar.
Menurut Thielen, situasi saat ini mencerminkan fase pasar bearish, yang ditandai dengan volume transaksi rendah dan tingkat ketidakpastian tinggi, terutama menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat. Ia memperkirakan harga bitcoin masih berpeluang melanjutkan penurunan hingga mendekati US$50.000 sebelum menemukan level keseimbangan yang lebih solid.
Di tengah tekanan pada bitcoin, minat terhadap aset lindung nilai justru meningkat. Harga emas spot tercatat naik sekitar 1,5 persen pada perdagangan Senin. Pergerakan tersebut berbanding terbalik dengan bitcoin, yang selama ini kerap dijuluki sebagai “emas digital”, termasuk oleh Ketua Federal Reserve, Jerome Powell.
Pada perdagangan terakhir, bitcoin berada di posisi US$64.816,8 atau melemah 5,3 persen. Sementara itu, ether sebagai aset kripto terbesar kedua turun hampir 6 persen ke level US$1.865,7.
Sebelumnya, Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, Matt Hougan, menilai tekanan pada bitcoin terutama dipengaruhi oleh siklus empat tahunan pasar kripto. Ia menyebut pola koreksi kali ini menyerupai tren penurunan pada periode-periode sebelumnya.
Hougan juga menegaskan tidak ada satu faktor dominan di balik pelemahan harga. Investor disebut mulai mengalihkan dana ke emas dan saham berbasis kecerdasan buatan, sembari mencermati isu pencalonan pejabat The Fed seperti Kevin Warsh serta berbagai risiko global lainnya. Bitcoin sendiri sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari satu tahun di level US$63.119,8 pada 5 Februari.
