Jakarta, FORTUNE - Pasar aset kripto memulai pekan dengan tekanan. Harga Bitcoin (BTC) turun pada perdagangan Senin (2/3) pagi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi di Amerika Serikat.
Melansir CoinMarketCap, data kapitalisasi pasar kripto global menyusut 2,32 persen menjadi US$2,26 triliun. Di saat yang sama, harga Bitcoin turun 1,8 persen ke level US$65.952 per koin atau sekitar Rp1,11 miliar dengan asumsi kurs Rp16.832 per dolar AS. Tekanan juga terlihat pada indeks CoinDesk 20 yang merepresentasikan pergerakan 20 aset kripto terbesar.
Indeks tersebut turun 2,1 persen. Sejumlah aset digital utama ikut melemah, dengan Ethereum turun 1,36 persen menjadi US$1.941, XRP merosot 2,11 persen ke US$1,35, Dogecoin (DOGE) terkoreksi 1,62 persen ke US$0,09, dan Solana (SOL) turun 0,91 persen ke US$83. Di sisi lain, Binance Coin (BNB) justru mencatat kenaikan tipis 0,42 persen menjadi US$619. Mengutip CoinDesk, pergerakan harga Bitcoin dinilai relatif stabil meskipun konflik di Timur Tengah semakin memanas. Sebagian pelaku pasar kripto bahkan menilai peluang penguatan masih terbuka, dengan target jangka pendek di kisaran US$74.000. Respons pasar keuangan tradisional atau TradFi masih terbatas karena perdagangan akhir pekan belum berlangsung. Meski demikian, kontrak berjangka saham Amerika Serikat tercatat melemah sekitar 0,65 persen. Sementara di pasar kripto, volatilitas sempat meningkat sebelum akhirnya kembali mereda tanpa terjadi penembusan signifikan dari kisaran harga yang ada.
Analis kripto, Michaël van de Poppe, menilai respons awal pasar tergolong cukup positif. Namun ia mengingatkan masih terdapat ketidakpastian menjelang pembukaan pasar Amerika Serikat serta potensi celah harga (gap) pada kontrak berjangka Bitcoin di CME Group.
Ia menyoroti level rata-rata pergerakan sederhana (simple moving average/SMA) 21 hari di sekitar US$67.627 sebagai area kunci yang perlu ditembus untuk membuka ruang reli lanjutan. Di sisi lain, gap akhir pekan pada pasar futures CME berada di kisaran US$65.880.
Pandangan serupa datang dari trader kripto BitBull yang menilai struktur teknikal jangka pendek masih mendukung tren penguatan. Menurutnya, Bitcoin berpeluang naik menuju kisaran US$73.000 hingga US$74.000 apabila mampu mempertahankan level dukungan saat ini. Sebagian pelaku pasar bahkan beranggapan bahwa risiko geopolitik sebenarnya sudah lebih dulu diantisipasi pasar atau “priced in”, sehingga pergerakan harga tidak mengalami tekanan berlebihan.
Namun, perhatian investor juga tertuju pada potensi lonjakan harga energi setelah Iran mengklaim menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.
Lembaga riset pasar The Kobeissi Letter, mengutip analisis JPMorgan Chase, menyebut inflasi Amerika Serikat berpotensi melonjak hingga 5 persen apabila harga energi meningkat tajam. “Terakhir kali inflasi AS berada di level 5 persen adalah pada Maret 2023, ketika The Fed agresif menaikkan suku bunga,” tulisnya.
Selain itu, data inflasi terbaru Amerika Serikat sebelumnya juga melampaui perkiraan pasar, termasuk angka Indeks Harga Produsen (PPI) yang dirilis pada Jumat lalu. Risiko geopolitik, potensi kenaikan harga minyak, serta tekanan inflasi diperkirakan masih terus membuat volatilitas di pasar kripto. Namun sejauh ini Bitcoin masih mampu menjaga stabilitasnya tanpa koreksi dalam, sekaligus membuka peluang penguatan apabila kondisi pasar kembali kondusif.
