Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Geopolitik Memanas, Penutupan Selat Hormuz Dorong Lonjakan Harga Minyak
ICDX Commodity Outlook, Rabu (11/3).
  • Eskalasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik AS–Iran dan penutupan Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak mentah global hingga mencapai sekitar US$90 per barel pada awal Maret 2026.
  • Analis ICDX memperkirakan tren kenaikan harga minyak berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026 dengan proyeksi resistance di kisaran US$95–US$100 dan support di rentang US$75–US$80 per barel.
  • ICDX mencatat peningkatan perdagangan kontrak minyak mentah, meski kontribusinya baru sekitar 10 persen dari total transaksi emas, dengan volume transaksi multilateral mencapai 61.260 lot sepanjang 2025.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz telah mengguncang pasar energi global. Ketegangan tersebut mendorong volatilitas harga minyak mentah di pasar internasional beberapa waktu terakhir.

Analis Research and Development di Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Girta Putra Yoga, menilai bahwa dinamika geopolitik pada awal 2026 menjadi katalis utama kenaikan harga minyak. Sejumlah peristiwa besar membentuk sentimen pasar, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, wacana Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, hingga pecahnya konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran.

Rangkaian peristiwa tersebut akhirnya mendorong harga minyak mentah melonjak hingga menyentuh kisaran US$90 per barel pada awal Maret 2026, setelah sebelumnya berada di sekitar US$57 per barel pada awal Januari.

Melihat perkembangan tersebut, Girta memperkirakan tren penguatan harga minyak masih berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026 dengan proyeksi level resistance di rentang US$95–US$100 per barel, sementara level support berada di kisaran US$80–US$75 per barel.

"Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump," ujarnya dalam gelaran ICDX Commodity Outlook, Rabu (11/3).

Di tengah gejolak harga tersebut, Direktur ICDX Nursalam menyebut bahwa perdagangan kontrak minyak ICDX turut mengalami penguatan. Namun ia tidak merinci besaran kenaikan secara spesifik.

"Untuk kontrak minyak mentah ada peningkatannya, perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap harga komoditas tersebut," ujarnya dalam gelaran ICDX Commodity Outlook, Rabu (12/3).

Kendati demikian Nursalam menggarisbawahi bahwa porsi transaksi kontrak minyak di ICDX masih relatif kecil jika dibandingkan dengan komoditas emas. Nursalam mencatat kontribusi kontrak minyak saat ini baru sekitar 10 persen dari total transaksi kontrak emas di bursa.

Sepanjang 2025, volume transaksi multilateral untuk kontrak komoditas berbasis minyak mentah di ICDX tercatat mencapai 61.260 lot. Dari jumlah tersebut, perdagangan didominasi oleh kontrak COFRMic dengan volume transaksi sebesar 51.548 lot.

Kontrak COFRMic merupakan kontrak berjangka minyak mentah berukuran mikro dengan acuan harga West Texas Intermediate (WTI) sebagai underlying. Kontrak ini memiliki ukuran sebesar 10 barel per lot, sehingga memberikan akses yang lebih fleksibel bagi pelaku pasar untuk melakukan transaksi maupun lindung nilai terhadap pergerakan harga minyak mentah.

Editorial Team

EditorEkarina .