IHSG Diproyeksikan Melemah Lagi Dibayangi Sentimen Rupiah

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali melemah pada Jumat (24/4), setelah ditutup turun 2,16 persen di level 7.378 seiring aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,36 triliun kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, dari sentimen global, perpanjangan gencatan senjata belum sepenuhnya mampu meredakan ketidakpastian geopolitik, sehingga mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.
Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah kembali melemah dari area Rp17.000 menuju Rp17.300 per dolar AS. "Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global, penguatan dolar AS, serta capital outflow dari pasar keuangan domestik," katanya dalam riset.
Hari ini, Reza memprediksi IHSG masih bergerak volatil dengan kecenderungan melemah terbatas. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji area support 7.305–7.300, sementara resisten terdekat berada di kisaran 7.460–7.500. Saham-saham pilihannya adalah MEDC, ITMG, dan JPFA.
"Arah pergerakan pasar akan dipengaruhi sentimen eksternal, stabilitas rupiah, dan arus dana asing," ujarnya.
Sementara itu, secara teknikal, IHSG telah breakdown support 7.500 dan didukung volume. Histogram positif MACD makin menyempit dan berpotensi membentuk death cross. Stochastic RSI mengarah turun di area pivot. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di 7.308 serta menguji level 7.300.
Sentimen negatif antara lain berasal dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17,300/dolar AS dan ditutup pada level Rp17,286/dolar AS di pasar spot.
"Ini menjadi level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa serta merupakan pelemahan paling dalam di Asia," demikian dikutip dari riset Phintraco Sekuritas.
Phintraco menilai, pelemahan rupiah yang relatif cepat ini di luar estimasi pasar sebelumnya. Penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut membuat harga minyak bertahan di harga tinggi, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan potensi inflasi dan melebarnya defisit anggaran belanja.
Data uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7 persen (YoY) menjadi Rp10.355 triliun pada Maret 2026, berakselerasi dari pertumbuhan sebesar 8,7 persen (YoY) pada Februari 2026. Kenaikan itu didorong oleh peningkatan uang beredar M1 sebesar 14,4 persen (YoY) dan uang kuasi sebesar 5,2 persen (YoY).
Perkembangan M2 ini juga dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit. "Hal ini diperkirakan seiring dengan adanya Hari Raya Idul Fitri di Maret 2026 sehingga jumlah uang beredar meningkat untuk transaksi, investasi dan konsumsi," kata Phintraco Sekuritas.
Daftar saham pilihan tim Phintraco Sekuritas hari ini adalah BBTN, ELSA, INDY, TSPC, dan MYOR.
















