Astra International (ASII) Siapkan Capex Rp36 Triliun untuk 2026

- Astra International menyiapkan capex Rp36 triliun untuk 2026, naik 10% dari tahun sebelumnya, dengan fokus utama pada bisnis alat berat dan pertambangan.
- Strategi bisnis jangka menengah dan panjang Astra akan diumumkan Juni 2026 setelah proses strategic review dan penetapan direksi baru selesai.
- Kinerja awal 2026 menghadapi tekanan di segmen otomotif dan tambang emas UT Group, namun sektor jasa keuangan masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Jakarta, FORTUNE - PT Astra International Tbk (ASII), mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp36 miliar. Angka ini meningkat 10 persen dari alokasi capex tahun 2025.
“Pada tahun 2025, Astra telah merealisasikan capex termasuk investasi sebesar Rp32 triliun, dengan porsi terbesar dialokasikan pada bisnis alat berat dan pertambangan,” kata Direktur Astra, Hsu Hai Yeh, dalam paparan publik ASII, Kamis (23/4).
Pada tahun ini, alokasi belanja modal tersebut akan dialokasikan untuk maintenance capex. Meski demikian, Astra juga membuka peluang untuk berinvestasi pada sektor-sektor strategis dengan mempertimbangkan kondisi operasional dan peluang ke depan.
“Alokasi modal yang lebih rinci termasuk fokus investasi akan disampaikan proses strategic review selesai,” katanya.
Sementara itu, terkait strategi bisnis jangka menengah maupun panjang baru dapat diumumkan pada bulan Juni 2026 melalui hasil strategic review. Hal tersebut mempertimbangkan adanya susunan direksi baru yang baru saja ditetapkan.
Di samping itu, Astra memberikan gambaran awal terkait kinerja kuartal I 2026. Sejumlah tantangan masih membayangi, terutama pada segmen otomotif serta lini bisnis Astra Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy (AHEMCE) melalui United Tractors (UT Group).
Pada UT Group, kinerja terdampak oleh penghentian sementara operasional tambang emas, yang turut menekan kontribusi terhadap perseroan. Selain itu, dinamika industri pertambangan secara umum juga memberikan tekanan serupa, tidak hanya bagi Astra tetapi juga pelaku industri lainnya.
“Itu akan berdampak ke profitability UT Group maupun Astra,” ujar Presiden Direktur ASII, Rudy.
Di sisi lain, pasar otomotif dalam dua tahun terakhir hingga kuartal I 2026 tercatat masih tumbuh, meskipun sangat terbatas. Kondisi tersebut juga disebabkan meningkatnya intensitas persaingan di industri.
Meski demikian, terdapat faktor penopang dari pilar jasa keuangan. Diversifikasi portofolio dinilai mampu menjaga kinerja.
“Jadi boleh dibilang untuk sampai 3 bulan pertama kita masih melihat pertumbuhannya positif untuk jasa keuangan,” katanya.
















