Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Menilik Bitcoin Reli di Tengah Optimisme Pasar Saham dan AI Boom
ilustrasi crypto bitcoin (pexels.com/Alesia Kozik)

Jakarta, FORTUNE - Harga Bitcoin (BTC) menguat signifikan dan kembali menembus level psikologis US$68.000 pada perdagangan terbaru, naik lebih dari 5 persen dalam sehari. Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah Amerika Serikat memastikan tidak akan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal Cina, sehingga meredakan kekhawatiran eskalasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh U.S. Trade Representative Jamieson Greer dalam wawancara dengan media AS, yang menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana menaikkan tarif di atas kisaran 35–50 persen dan akan tetap berpegang pada kesepakatan sebelumnya. Sikap ini dinilai pasar sebagai sinyal stabilitas kebijakan perdagangan, terutama menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping bulan depan. Sebelumnya, harga Bitcoin sempat tertekan di bawah US$65.000 setelah pidato kenegaraan Trump tidak menyinggung industri kripto. Pasar juga sempat dihantui kekhawatiran baru terkait potensi kebijakan tarif tambahan, yang pada 2025 lalu terbukti menekan aset berisiko, termasuk kripto.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai penguatan Bitcoin kali ini lebih dipicu oleh meredanya sentimen risiko global dibanding faktor fundamental internal kripto. “Pasar kripto sangat sensitif terhadap isu makro global, terutama yang berkaitan dengan likuiditas dan stabilitas geopolitik. Kejelasan bahwa AS tidak akan mengeskalasi tarif memberikan sentimen risk-on jangka pendek, sehingga aset seperti Bitcoin kembali diminati,” ujar Fyqieh dalam keterangan kepada Fortune Indonesia, Kamis (26/2).

Selain faktor makro, perhatian pasar juga tertuju pada laporan keuangan terbaru Nvidia yang baru saja dirilis. Perusahaan tersebut melaporkan pendapatan kuartalan US$68,1 miliar, melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya dan melampaui ekspektasi Wall Street.

Laba per saham (EPS) yang disesuaikan juga tercatat US$1,62, lebih tinggi dari perkiraan konsensus. Capaian ini mempertegas dominasi Nvidia sebagai pemasok utama perangkat keras komputasi AI yang menjadi tulang punggung kebutuhan cloud, startup, hingga implementasi AI di perusahaan besar. Meski fundamentalnya kuat, reaksi pasar saham menunjukkan sentimen yang tidak sepenuhnya satu arah. Saham Nvidia sempat menguat signifikan pasca-rilis dan menembus level US$200 dalam perdagangan setelah jam kerja, namun dinamika pergerakan berikutnya mencerminkan bahwa pelaku pasar masih memilah dampak kinerja perusahaan terhadap valuasi dan ekspektasi pertumbuhan ke depan.

Fyqieh menilai hasil kinerja Nvidia berperan sebagai penguat sentimen aset berisiko, termasuk kripto, tetapi tidak otomatis menghilangkan risiko volatilitas. “Laporan Nvidia yang melampaui ekspektasi membantu menjaga mode risk-on di pasar global, sehingga kripto ikut mendapat dorongan sentimen. Namun reaksi yang campuran menunjukkan pasar tetap sensitif terhadap isu valuasi dan outlook. Dampaknya ke Bitcoin cenderung sebagai katalis jangka pendek, sementara arah berikutnya tetap ditentukan kombinasi faktor makro, arus institusional, dan kondisi permintaan spot,” ujar Fyqieh.

Menuju US$70.000, kembali bullish?

Secara teknikal, Bitcoin bahkan sempat mendekati level US$70.000 sebelum mengalami sedikit koreksi. Sejumlah indikator on-chain menunjukkan tanda-tanda awal stabilisasi, termasuk peningkatan permintaan spot untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, beberapa indikator lain masih menunjukkan kondisi pasar yang rapuh. Data menunjukkan investor jangka pendek (short-term holders) masih banyak menjual dalam kondisi rugi sejak akhir Januari. Pola ini dikenal sebagai fase kapitulasi, yang kerap muncul di sekitar dasar pasar, namun belum tentu menandai pembalikan tren secara penuh.

Selain itu, arus dana institusional juga belum sepenuhnya pulih. Sebelumnya, produk ETF Bitcoin sempat mencatat arus keluar (outflow) berkelanjutan, dan sejumlah manajer investasi besar dilaporkan mengurangi eksposur terhadap kripto pada akhir 2025.

Fyqieh menjelaskan bahwa reli saat ini lebih tepat dikategorikan sebagai relief rally dibanding awal bull market baru. “Beberapa sinyal memang menunjukkan potensi pembentukan dasar, seperti tekanan jual yang mulai mereda dan RSI yang keluar dari area oversold. Namun selama arus masuk institusional belum konsisten dan investor jangka pendek masih dominan jual rugi, reli ini masih rentan koreksi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa struktur pasar opsi juga menunjukkan kondisi negative gamma, yang berarti pergerakan harga dapat menjadi lebih agresif ke dua arah. “Dalam kondisi seperti ini, kenaikan bisa berlangsung cepat, tetapi koreksi juga bisa terjadi sama tajamnya. Investor perlu disiplin dalam manajemen risiko dan tidak langsung mengasumsikan bahwa tren bullish sudah kembali,” ujar Fyqieh.

Dengan kombinasi sentimen makro yang membaik dan sinyal teknikal awal stabilisasi, Bitcoin kini berada di persimpangan penting. Keberlanjutan kenaikan menuju US$70.000 akan sangat bergantung pada konsistensi permintaan, arus dana institusional, serta perkembangan ekonomi global dalam beberapa pekan ke depan.

Editorial Team