MTDL Raih Pendapatan Rp27,2 Triliun di Tengah Pelemahan Daya Beli

- PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) mencatat pendapatan Rp27,2 triliun dan laba bersih Rp814 miliar, masing-masing tumbuh 8,1 persen dan 10 persen meski daya beli masyarakat melemah.
- Pertumbuhan didorong oleh strategi diversifikasi produk serta penguatan lini solusi digital seperti cloud, data, dan kecerdasan buatan yang menopang kinerja di tengah pengetatan belanja pemerintah.
- Segmen Distribusi tetap menjadi penyumbang utama dengan kenaikan penjualan 9 persen, sementara Solusi dan Konsultasi Digital tumbuh 4,5 persen berkat meningkatnya permintaan layanan teknologi dan model langganan.
Jakarta, FORTUNE - PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) membukukan pendapatan sebesar Rp27,2 triliun, tumbuh 8,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tak hanya dari sisi topline, laba bersih konsolidasi MTDL juga mencatatkan kenaikan 10 persen secara tahunan menjadi sebesar Rp814 miliar.
Presiden Direktur MTDL, Susanto Djaja, mengungkapkan bahwa ketahanan kinerja ini ditopang oleh strategi diversifikasi produk serta penguatan lini bisnis solusi dan konsultasi digital.
“Kemampuan Perseroan dalam menjaga stabilitas penjualan PC dan notebook menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung kinerja di tengah melemahnya daya beli dan pengetatan belanja pemerintah,” kata Susanto dalam keterangannya, Kamis (26/3).
Pengembangan layanan berbasis solusi—mulai dari cloud, data, hingga kecerdasan buatan (AI)—turut mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Dari sisi segmen usaha, unit bisnis Distribusi masih menjadi tulang punggung pendapatan. Segmen ini mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 9,0 persen secara tahunan, didorong oleh lonjakan penjualan smartphone yang tumbuh signifikan 24,6 persen serta peningkatan segmen komersial sebesar 7,2 persen.
Sementara itu, unit Solusi dan Konsultasi Digital menunjukkan kualitas pertumbuhan yang semakin kuat. Penjualan di segmen ini meningkat 4,5 persen, dengan laba bersih melonjak hingga 12 persen.
Kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya kebutuhan layanan berbasis teknologi, khususnya pada solusi cloud, hybrid infrastructure, dan cybersecurity, yang kian krusial di tengah percepatan transformasi digital di berbagai sektor.
Selain itu, model bisnis berbasis langganan (subscription) juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pendapatan berulang (recurring income) perseroan. Seiring dengan berlanjutnya kebutuhan digitalisasi, perolehan order di segmen solusi pun mulai menunjukkan tren pemulihan.
“Keberhasilan melalui tantangan kondisi makro tahun 2025 ini membuat kami semakin optimistis untuk memperkuat posisi sebagai digital solution provider dan meraih target menjadi perusahaan TIK terbesar di Indonesia,” ujar Susanto.
















