Vale Indonesia Kantongi Kredit Sindikasi Berbasis ESG US$750 Juta

- PT Vale Indonesia meraih fasilitas Sustainability-Linked Loan senilai US$750 juta dengan opsi tambahan US$250 juta, menjadi pinjaman sindikasi perdana yang memperkuat ketahanan finansial perusahaan.
- Pembiayaan ini dikaitkan dengan target penurunan emisi karbon dan peningkatan energi terbarukan, mendapat penilaian 'strong' karena selaras dengan Paris Agreement 1,5°C dan kontribusi terhadap NDC Indonesia.
- Dana pinjaman akan digunakan untuk proyek strategis seperti IGP Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite serta program pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasional INCO.
Jakarta, FORTUNE - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengungkapkan telah meraih fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta, dengan opsi tambahan (greenshoe) sebesar US$250 juta.
Fasilitas ini menjadi pinjaman sindikasi perdana bagi INCO sekaligus penanda penting dalam memperkuat ketahanan finansial perusahaan.
Tingginya minat pasar tecermin pada kondisi oversubscribed hingga 1,7 kali dengan dukungan 14 bank internasional.
Presiden Direktur dan CEO INCO, Bernardus Irmanto, menegaskan pembiayaan ini merupakan bagian dari langkah besar perusahaan dalam mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam pengambilan keputusan strategis.
“Fasilitas ini menandai langkah penting dalam perjalanan kami untuk menyelaraskan strategi pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan,” kata dia dalam keterangannya yang dikutip Jumat (24/4).
Permintaan nikel diperkirakan terus meningkat seiring percepatan elektrifikasi global.
Berdasarkan proyeksi International Energy Agency (IEA), kapasitas penyimpanan baterai global perlu meningkat hingga 14 kali lipat dan permintaan baterai kendaraan listrik melonjak tujuh kali lipat hingga 2030.
Dalam konteks ini, INCO berada pada posisi strategis sebagai produsen nikel dengan intensitas karbon relatif rendah, ditopang oleh penggunaan energi terbarukan dari tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terintegrasi dalam pengoperasian.
Fasilitas pembiayaan ini disusun berdasarkan Sustainability-Linked Financing Framework dengan indikator utama berupa penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan. Kedua indikator tersebut telah mendapat penilaian “strong” dari lembaga penilai independen, yang menilai keselarasan target INCO dengan Paris Agreement 1,5°C serta kontribusinya terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.
Dari sisi pemanfaatan, dana pinjaman akan difokuskan untuk mengembangkan proyek strategis perusahaan, termasuk Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite, serta kelanjutan proyek dan partisipasi joint venture pada tahun berikutnya.
Sementara itu, Direktur Wholesale Banking UOB Indonesia, Harapman Kasan, menegaskan pentingnya pembiayaan berbasis keberlanjutan dalam transformasi industri.
“Transaksi ini mencerminkan pendekatan kami dalam mendukung nasabah melalui struktur pembiayaan yang selaras dengan target keberlanjutan yang terukur, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam agenda transisi energi global,” ujarnya.
Sementara itu, Ken Matsuo dari PT Bank Mizuho Indonesia menyoroti tingginya minat investor dalam pembiayaan ini.
“Energi merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, dan kami bangga dapat mendukung fasilitas pinjaman sindikasi perdana INCO. Di tengah volatilitas pasar, tingginya minat dari para bank peserta serta oversubscription menunjukkan kuatnya kepercayaan terhadap model bisnis INCO,” ujarnya.
Lebih jauh, INCO memastikan bahwa manfaat dari skema ini tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat. Sebagian keuntungan dari penyesuaian margin berbasis kinerja ESG akan dialokasikan untuk program pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Â

















