Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

AS Serang Iran Lagi, Ketegangan di Timur Tengah Memuncak

AS Serang Iran Lagi, Ketegangan di Timur Tengah Memuncak
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato dalam acara peluncuran roket SpaceX Falcon 9 yang membawa pesawat ruang angkasa Crew Dragon dalam misi SpaceX Demo-2 NASA bersama dua astronot AS, Robert Behnken dan Douglas Hurley, di Pusat Luar Angkasa Kennedy NASA di Florida pada Sabtu 30 Mei 2020. (commons.wikimedia.org/NASA)
  • AS menyerang dua peluncur IRGC di Pulau Larak, Iran, yang disebut disiapkan untuk meluncurkan roket pembawa ranjau ke Selat Hormuz; IRGC melaporkan korban tewas dan luka.
  • Iran membalas dengan rudal balistik ke pangkalan AS King Hussein dan Al Azraq di Yordania; militer Yordania menyatakan delapan rudal dicegat tanpa korban luka.
  • Ketegangan di Selat Hormuz mengganggu pelayaran dan meningkatkan risiko pasokan energi global; harga minyak Brent naik lebih dari 2 persen setelah serangan AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangan ke Pulau Larak di Iran selatan pada Minggu (30/8). Serangan tersebut menjadi aksi militer pertama AS terhadap Iran sejak akhir Juli dan berpotensi membuka kembali konfrontasi langsung kedua negara.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan menyasar dua peluncur milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang diduga sedang disiapkan untuk meluncurkan roket pembawa ranjau ke Selat Hormuz. Washington menyebut tindakan tersebut sebagai upaya mencegah Iran memasang ranjau di jalur pelayaran strategis itu.

Serangan tersebut berlangsung ketika pemerintahan Presiden Donald Trump tengah menggeser tekanan terhadap Teheran dari kampanye pengeboman menuju tekanan ekonomi dan finansial. Namun, penggunaan kekuatan militer terbaru menunjukkan opsi tersebut belum sepenuhnya ditinggalkan.

IRGC mengonfirmasi serangan AS dan menyatakan sejumlah tentaranya tewas serta terluka. Kantor berita Fars juga melaporkan adanya ledakan di sekitar Pulau Larak.

IRGC kemudian memperingatkan Washington bahwa serangan tersebut akan mendapat balasan.

“Tindakan ini akan dibalas oleh putra-putra Iran dan akan berujung pada hukuman bagi pelaku agresi,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara IRGC Sardar Mohebi juga menilai serangan AS sebagai kesalahan strategis yang dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi dan militer bagi Washington.

Ancaman tersebut kemudian diikuti aksi militer Iran. IRGC menyatakan telah meluncurkan rudal balistik ke dua pangkalan AS di Yordania, yakni King Hussein dan Al Azraq. Militer Yordania mengatakan delapan rudal berhasil dicegat dan tidak ada korban luka yang dilaporkan di kedua pangkalan.

Pertukaran serangan tersebut menjadi eskalasi pertama antara kedua pihak sejak akhir Juli. Perkembangan ini sekaligus meningkatkan risiko konflik kembali meluas di kawasan.

  1. Selat Hormuz bergejolak

    Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam perseteruan AS dan Iran. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi perdagangan energi dunia dan sebelum konflik pecah menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari.

    Dalam beberapa pekan terakhir, Washington menyatakan telah mengambil kendali atas jalur tersebut dan mengklaim jutaan barel minyak berhasil dikirim melalui Selat Hormuz dengan perlindungan militer AS.

    Namun, Iran membantah klaim tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai informasi mengenai keberhasilan AS mengalirkan minyak melalui jalur tersebut merupakan upaya memengaruhi pasar energi.

    “Intelijen kami menunjukkan upaya besar untuk memanipulasi pasar energi,” tulis Araghchi di X.

    Ia juga menuding sejumlah elemen pemerintah AS menggunakan media untuk memengaruhi harga energi demi kepentingan tertentu.

    “Elemen-elemen Pemerintah AS menggunakan media yang mudah dipengaruhi untuk memengaruhi harga demi keuntungan pribadi dan membuat (Trump) terus terjebak dalam perang yang kalah. Aktor-aktor yang bersekutu dengan Israel juga mempromosikan perang dengan penilaian yang optimis. Konsumen AS merasakan dampak sebenarnya,” katanya, menambahkan.

    Di lapangan, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya normal. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dilaporkan masih terjadi hampir setiap hari, sementara Teheran tetap menyatakan jalur tersebut tertutup.

    Kondisi tersebut menambah risiko terhadap pasokan energi global. Reuters melaporkan harga minyak Brent naik lebih dari 2 persen setelah serangan AS ke Larak. Brent sempat berada di sekitar US$90,61 per barel, sedangkan WTI mencapai US$85,53 per barel.

    Serangan terbaru juga menunjukkan bahwa strategi Washington terhadap Iran berjalan melalui dua jalur sekaligus, yakni tekanan ekonomi dan ancaman penggunaan kekuatan militer.

    Pekan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan langkah untuk memperketat isolasi finansial Iran dengan mengancam pemberlakuan sanksi sekunder terhadap negara dan perusahaan yang melakukan bisnis dengan Teheran.

    AS sebelumnya juga memperluas sanksi terhadap Iran sebagai bagian dari upaya menekan pendapatan negara tersebut. Al Jazeera melaporkan Washington menyebut strategi tersebut sebagai upaya memutus sumber pendapatan Iran dan mempersempit ruang ekonominya.

    Namun, kepala Pentagon Pete Hegseth tetap memperingatkan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan militer apabila diperlukan.

    Para pejabat AS juga terus menyatakan bahwa kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz telah melemah. Pemerintahan Trump menilai sanksi ekonomi dan blokade terhadap pelabuhan Iran semakin menekan kondisi perekonomian negara tersebut.

    Teheran justru mempertahankan sikap konfrontatif dan menyatakan kesiapan menghadapi konflik dalam jangka panjang.

    Eskalasi terbaru menempatkan Selat Hormuz kembali sebagai pusat perhatian pasar. Setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi perdagangan minyak dan biaya energi global.

    Reuters mencatat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz telah menurun sejak konflik berlangsung. Ketidakpastian tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga harga minyak tetap tinggi.

    Bagi pasar global, persoalannya bukan hanya apakah AS dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan. Risiko yang lebih luas terletak pada kemungkinan konflik mengganggu jalur energi strategis dalam waktu lebih panjang.

    Dengan serangan Larak yang kemudian dibalas Iran di Yordania, ruang diplomasi kedua negara kembali menghadapi tekanan. Eskalasi ini juga memperlihatkan bahwa meski Washington meningkatkan penggunaan sanksi ekonomi, opsi militer masih terbuka ketika AS menilai kepentingan strategisnya di kawasan terancam.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More