Jakarta, FORTUNE – Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar resmi melampaui kuota kumulatif yang ditargetkan pemerintah. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan realisasi Jenis BBM Tertentu (JBT) Biosolar hingga 25 Juli 2026 telah mencapai 10,467 juta kiloliter, atau setara 104,48 persen dari target penyaluran year-to-date (YTD).
Pemicu utama lonjakan konsumsi ini adalah kian lebarnya selisih harga antara BBM bersubsidi dengan BBM nonsubsidi kelompok Dex Series, yang mendorong sebagian masyarakat beralih ke solar subsidi.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menegaskan laju penyaluran solar subsidi telah menjadi perhatian utama otoritas saat ini agar tidak kian melebihi proyeksi pemerintah hingga akhir tahun.
"Yang menjadi perhatian kami hari ini adalah distribusi BBM untuk minyak solar, karena posisinya sudah berada di atas alokasi penyaluran yang ditetapkan secara year-to-date," kata Wahyudi dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah, Senin (27/7).
Sebagai pembanding, total alokasi JBT Biosolar yang ditetapkan pemerintah sepanjang tahun ini adalah 18,64 juta kiloliter.
Berbeda dari Biosolar, penyaluran Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite relatif aman dan terkendali dalam batas perencanaan awal.
Dari total alokasi tahunan 29,267 juta kiloliter, realisasi penyaluran Pertalite hingga periode sama mencapai 16,438 juta kiloliter. Angka tersebut setara 97,61 persen dari target kumulatif year-to-date.
Sementara itu, realisasi penyaluran minyak tanah juga dilaporkan masih berada di bawah alokasi batas yang ditetapkan pemerintah.
BPH Migas memperkirakan pasokan minyak tanah akan tetap mencukupi hingga akhir tahun. Ketersediaan pasokan ini diprioritaskan untuk menjaga kebutuhan energi masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta kawasan kepulauan yang belum terjangkau konversi LPG.
