Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Impor Bawang Putih Indonesia Tembus 229 Ribu Ton
Pedagang memilah bawang putih yang dijual di Pasar MAJT, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/1/2025). (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)
  • Impor bawang putih Indonesia mencapai 229,76 ribu ton pada Januari–Juni 2026, naik 28,4 persen secara tahunan; sekitar 98 persen pasokan berasal dari Cina.
  • Masuknya impor membuat pasokan nasional relatif memadai dan harga mulai turun, tetapi rata-rata masih Rp39.924 per kilogram, 5,1 persen di atas HAP Rp38.000.
  • Daerah dengan kenaikan harga turun menjadi 50 kabupaten/kota dari 248, namun harga masih tinggi di Kapuas Hulu Rp50.000 dan Manokwari Selatan Rp63.750 per kilogram.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan posisi impor bawang putih Indonesia mencapai 229,76 ribu ton sepanjang Januari–Juni 2026. Volume tersebut meningkat sekitar 28,4 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 178,89 ribu ton.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan peningkatan pasokan melalui impor tersebut membuat ketersediaan bawang putih nasional relatif memadai. Hampir seluruh pasokan impor berasal dari Cina.

“Impor bawang putih selama satu semester 2026 ini sudah 229.000 ton. Jadi hampir 230.000 ton dan ini tentunya secara pasokan harusnya memadai,” kata Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan secara virtual, Senin (10/8).

Berdasarkan data BPS, sekitar 98 persen impor bawang putih Indonesia berasal dari Cina, sedangkan sisanya dipasok dari India.

Besarnya volume impor tersebut turut berdampak pada pergerakan harga. Amalia mengatakan harga bawang putih secara nasional mulai mengalami penurunan seiring dengan masuknya pasokan impor.

Namun, penurunan tersebut belum membuat harga kembali berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat konsumen.

“Secara nasional rata-rata harga bawang putih sudah mulai menurun tetapi masih di atas HAP atau sekitar Rp39.924 per kilogram,” katanya.

HAP konsumen bawang putih ditetapkan sebesar Rp38.000 per kg. Dengan demikian, rata-rata harga nasional masih sekitar Rp1.924 per kg atau 5,1 persen di atas harga acuan tersebut.

Daerah yang harganya masih tinggi

Meski harga rata-rata nasional masih berada di atas HAP, tekanan harga bawang putih telah jauh berkurang di tingkat daerah.

BPS mencatat jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) bawang putih turun drastis menjadi 50 daerah, dari sebelumnya mencapai 248 kabupaten/kota.

“Ini tinggal PR-nya sudah jauh relatif lebih baik. Karena kalau kita lihat angka impor bawang putih juga sudah. Terus kalau kita lihat secara kumulatif sudah relatif banyak,” ujar Amalia.

Meski demikian, sejumlah daerah masih menjadi perhatian karena harga bawang putih berada di atas HAP.

Di Kabupaten Tanah Datar, misalnya, harga bawang putih mencapai Rp40.000 per kg, atau 5,26 persen di atas HAP. Harga yang lebih tinggi tercatat di Kabupaten Kapuas Hulu, yakni Rp50.000 per kg.

Sementara itu, di Kabupaten Manokwari Selatan, harga bawang putih bahkan mencapai Rp63.750 per kg.

Perbedaan harga antarwilayah tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasokan nasional relatif memadai, distribusi bawang putih masih menjadi salah satu faktor yang menentukan harga di tingkat konsumen.

Secara keseluruhan, BPS menilai kondisi bawang putih nasional sudah relatif terkendali. Penurunan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga, ditambah dengan volume impor yang telah mencapai hampir 230.000 ton pada semester pertama 2026, menjadi indikasi tekanan pasokan mulai mereda.

Namun, pemerintah tetap perlu mencermati wilayah yang harga bawang putihnya masih berada di atas HAP agar penurunan harga secara nasional dapat diikuti oleh perbaikan harga di daerah. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article