Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan posisi impor bawang putih Indonesia mencapai 229,76 ribu ton sepanjang Januari–Juni 2026. Volume tersebut meningkat sekitar 28,4 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 178,89 ribu ton.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan peningkatan pasokan melalui impor tersebut membuat ketersediaan bawang putih nasional relatif memadai. Hampir seluruh pasokan impor berasal dari Cina.
“Impor bawang putih selama satu semester 2026 ini sudah 229.000 ton. Jadi hampir 230.000 ton dan ini tentunya secara pasokan harusnya memadai,” kata Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan secara virtual, Senin (10/8).
Berdasarkan data BPS, sekitar 98 persen impor bawang putih Indonesia berasal dari Cina, sedangkan sisanya dipasok dari India.
Besarnya volume impor tersebut turut berdampak pada pergerakan harga. Amalia mengatakan harga bawang putih secara nasional mulai mengalami penurunan seiring dengan masuknya pasokan impor.
Namun, penurunan tersebut belum membuat harga kembali berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat konsumen.
“Secara nasional rata-rata harga bawang putih sudah mulai menurun tetapi masih di atas HAP atau sekitar Rp39.924 per kilogram,” katanya.
HAP konsumen bawang putih ditetapkan sebesar Rp38.000 per kg. Dengan demikian, rata-rata harga nasional masih sekitar Rp1.924 per kg atau 5,1 persen di atas harga acuan tersebut.
