Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ingin Kurangi Impor LPG, Bahlil Kaji Pemanfaatan CNG
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • CNG bakal menjadi alternatif mengurangi ketergantungan impor LPG.

  • Bahlil Lahadalia menilai CNG menjanjikan karena bahan bakunya berasal dari gas alam dalam negeri.

  • Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah memperkuat kemandirian energi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah tengah merancang manuver yang ditujukan demi memutus rantai ketergantungan pada energi impor. Fokus utama kini tertuju pada pengkajian Compressed Natural Gas (CNG) sebagai kandidat kuat pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang kian membebani neraca perdagangan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan opsi pemanfaatan CNG bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak dalam mewujudkan kedaulatan energi nasional.

Langkah ini dipicu oleh realitas angka yang mencemaskan. Saban tahun, konsumsi LPG nasional membengkak hingga 8,6 juta ton. Celakanya, kemampuan suplai domestik hanya berkisar 1,6 juta-1,7 juta ton saja. Walhasil, lebih dari 75 persen kebutuhan energi masyarakat harus dipenuhi lewat keran impor.

“Sekarang masih dalam pembahasan,” ujar Bahlil dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/4).

Secara teknis, CNG merupakan gas alam yang didominasi komponen metana (C1) dan etana (C2). Melalui proses kompresi pada tekanan tinggi—berkisar 250 hingga 400 bar—gas ini menjelma menjadi sumber energi yang efisien dan siap pakai.

Indonesia sejatinya berdiri di atas tumpukan bahan baku CNG yang melimpah. Bahlil meyakini ekosistem industri ini sudah memiliki fondasi kuat, terbukti dengan eksistensi 57 badan usaha niaga yang telah berkecimpung pada sektor tersebut.

“Kalau CNG itu dari gas cair C1 dan C2, dan industrinya banyak di dalam negeri. Tinggal bagaimana kita mengompresnya agar bisa digunakan secara optimal,” katanya.

Pemanfaatan CNG bukan barang baru di telinga pelaku usaha. Sektor komersial seperti hotel, restoran, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) telah lebih dulu mencicipi efisiensinya. Kini, pemerintah berambisi memperluas penetrasinya hingga ke dapur-dapur rumah tangga.

Di tengah ketidakpastian global yang membuat pasokan energi impor kian berisiko—baik dari sisi fluktuasi harga maupun ketersediaan—pemerintah tampaknya mulai mengaktifkan "mode bertahan hidup" (survival mode). Strateginya jelas: memaksimalkan segala potensi yang tersimpan di dalam negeri.

Selain memacu CNG, otoritas juga tengah menggenjot serangkaian strategi paralel. Mulai dari upaya mendongkrak lifting minyak dan gas bumi, pengembangan bahan bakar nabati B50, hingga proyek diversifikasi melalui dimetil eter (DME).

Editorial Team