Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Pengusaha Beralih ke Kemasan Kertas Akibat Lonjakan Harga Plastik
ilustrasi paper lunch box, kemasan kertas (unsplash.com/Anna Hill)
  • Pelaku industri makanan dan minuman mulai beralih dari kemasan plastik ke kertas akibat lonjakan harga bahan baku serta dorongan tren global menuju kemasan berkelanjutan.
  • Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong substitusi plastik dengan kertas lewat inisiatif seperti business matching antara produsen kertas dan pelaku industri mamin.
  • Kenaikan harga bahan baku plastik hingga 80 persen dan ketergantungan impor 70 persen mempercepat peralihan ke kemasan alternatif seperti kertas, aseptik, dan kaca.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Tekanan biaya bahan baku yang kian mencekik tak pelak memaksa para pelaku industri makanan dan minuman (mamin) memutar otak. Alih-alih bertahan pada kemasan plastik, mereka kini mulai mengalihkan pilihan pada kertas.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan peran manufaktur kertas dalam kancah pengemasan kian hari kian gemuk. Prediksinya, dominasi ini bakal terus merangkak naik dalam waktu dekat.

“Kalau kita lihat, penggunaan kemasan fleksibel dari plastik itu sekitar 48 persen, sementara kertas sudah mencapai 35 persen. Ini menunjukkan peran kertas sebagai alternatif kemasan semakin besar,” ujar Putu saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (29/4).

Pemerintah tampak ogah berpangku tangan. Melalui kebijakan substitusi, otoritas industri giat menjodohkan produsen kertas dengan para pelaku usaha lewat agenda business matching. Tujuannya satu: mempercepat migrasi penggunaan kemasan berbasis kertas pada sektor mamin.

“Kami menyodorkan dan menawarkan penggunaan kertas untuk packaging, untuk menggantikan bahan lain seperti plastik. Ini cukup berhasil,” kata Putu.

Gayung pun bersambut. Respons pelaku pasar terbilang hangat, ditandai dengan niat sejumlah korporasi untuk melakukan transisi secara bertahap.

“Banyak industri yang paham dan berminat, dan ini akan terus berproses. Mereka akan melakukan substitusi,” ujarnya.

Namun, kertas bukan satu-satunya kartu yang dimainkan. Pemerintah juga melirik inovasi teknologi aseptic packaging yang memungkinkan produk minuman berumur panjang meski disimpan pada suhu ruang.

Aseptic packaging ini memungkinkan minuman bertahan lebih lama tanpa pendinginan, dan ini sedang berkembang,” kata Putu.

Pada saat yang sama, kemasan kaca pun mulai disosialisasikan sebagai opsi pengganti logam seperti aluminium dan timah. Walau demikian, bagi Putu, jalur kertas sejauh ini adalah yang paling akseleratif membuahkan hasil.

Fenomena ini merupakan pantulan dari riak di pasar internasional. Di mancanegara, industri mamin pelan-pelan mulai meninggalkan polimer plastik demi kemasan ramah lingkungan.

“Di ranah global juga terjadi hal yang sama, sehingga ekspor produk kita ikut bergerak cukup baik,” ujarnya.

Ihwal "larinya" industri ke kertas ini memang punya akar masalah yang pelik. Sebelumnya, Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) meniupkan kabar buruk: harga bahan baku plastik meroket hingga nyaris 80 persen. Walhasil, harga produk turunan plastik ikut terkerek ke kisaran 40-80 persen.

Kondisi ini kian runyam lantaran gangguan rantai pasok. Hingga detik ini, sekitar 70 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional masih menggantungkan nasib pada impor dari kawasan Timur Tengah.

Editorial Team