Siap Bertemu Moody’s, Danantara Tekankan Pentingnya Satu Suara

- Pandu Sjahrir menekankan pentingnya koordinasi dan narasi tunggal pemerintah jelang pertemuan dengan Moody's.
- Kesatuan sikap menjadi penting setelah Moody’s mengubah outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
- Moody’s menyoroti kejelasan komunikasi kebijakan, koordinasi antar-lembaga, dan perlunya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja prioritas dan pertumbuhan ekonomi.
Jakarta, FORTUNE - Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan urgensi penyatuan narasi pemerintah dalam merespons langkah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, yang baru saja merevisi outlook kredit Indonesia.
Dia memastikan seluruh komunikasi strategis kepada investor dan lembaga pemeringkatan akan dilakukan satu pintu melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.
Penegasan ini disampaikan menyusul keputusan Moody’s pada 5 Februari 2026 yang mengubah outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Kendati peringkat utang tetap dipertahankan di level Baa2, alias satu tingkat di atas batas investment grade, perubahan prospek ini menjadi sinyal peringatan bagi pasar keuangan domestik.
“Ini saya menjawab sebagai investor, karena sebenarnya itu ditujukan kepada Menteri Keuangan. Tapi kami semua satu. Kami semua satu tim, OK?” ujar Pandu usai menghadiri acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026 di Jakarta, Selasa (10/2).
Kekhawatiran utama Moody’s berpusat pada kejelasan komunikasi kebijakan dan koordinasi antar-lembaga, khususnya pasca-pendirian Danantara. Lembaga baru ini mengemban mandat raksasa mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$900 miliar, atau setara 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) 2025.
Menurut Moody’s, besarnya skala aset tersebut membawa ketidakpastian baru terkait risiko pembiayaan, tata kelola korporasi, hingga prioritas investasi pemerintah.
Dampak dari revisi ini cukup luas. Moody’s turut melakukan penyesuaian outlook terhadap 19 perusahaan Indonesia—mayoritas BUMN—serta lima bank beraset terbesar, yakni BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN.
Menghadapi situasi tersebut, Pandu mengatakan tanggapan resmi pemerintah akan dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan untuk disiplin dalam menyampaikan pesan ke publik.
“Moody’s Ratings itu nanti baliknya dari Kemenkeu, mungkin juga Danantara diajak ngomong. Kita komunikasi sebagai satu, karena kita satu Indonesia. Semua unsur yang berkomunikasi ke luar harus satu suara,” kata Pandu.
Ia menambahkan, inti permasalahan yang diangkat Moody’s sebenarnya sederhana, yakni menuntut transparansi mengenai arah kebijakan dan tujuan strategis Danantara.
“Pada dasarnya yang disampaikan Moody’s adalah soal komunikasi. Mereka ingin kejelasan sebenarnya apa yang ingin kita lakukan, sesederhana itu,” ujarnya.
Setelah Moody’s, lembaga pemeringkat utama lainnya seperti Fitch Ratings dan S&P Global dijadwalkan melakukan penilaian dalam waktu dekat. Pandu memastikan Danantara siap memberikan klarifikasi yang dibutuhkan dan menjamin konsistensi narasi di hadapan auditor internasional tersebut.
“Kita hanya harus mengatakan ini yang ingin kita lakukan. Kami tampil, dan kami terkoordinasi dengan baik,” katanya.
















