Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
SRUK Disiapkan Jadi Acuan Data Utama Perdagangan Karbon Indonesia
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat sambutan peluncuran SRUK di Jakarta, Kamis (9/7). (Eko Wahyudi/Fortune Indonesia)
  • Pemerintah meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai pusat pencatatan dan sumber data utama seluruh transaksi perdagangan karbon di Indonesia untuk memperkuat transparansi dan kepercayaan investor.

  • OJK menilai integrasi SRUK dengan Bursa Karbon Indonesia berbasis blockchain akan menciptakan sistem perdagangan karbon yang kredibel, mudah diawasi, serta memastikan setiap unit karbon memiliki jejak transaksi jelas.

  • Meski volume transaksi masih kecil, OJK dan BEI optimistis SRUK akan memperluas pasokan kredit karbon, meningkatkan likuiditas pasar, serta mendorong pertumbuhan ekosistem perdagangan karbon nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) menunjukkan langkah nyata pemerintah dan OJK dalam memperkuat fondasi pasar karbon nasional melalui transparansi, integrasi data, dan teknologi modern. Dengan sistem yang kredibel dan mudah diawasi, kepercayaan investor meningkat, sementara pelaku pasar memperoleh kepastian atas validitas transaksi serta peluang pertumbuhan perdagangan karbon yang lebih beragam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Pemerintah terus membangun fondasi pasar karbon nasional agar mampu menarik lebih banyak pelaku domestik maupun internasional.

Salah satu langkah terbarunya adalah peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK), yang akan menjadi pusat pencatatan seluruh unit karbon di Indonesia sekaligus sumber data utama dalam setiap transaksi perdagangan karbon.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai SRUK akan menjadi elemen menentukan dalam meningkatkan transparansi, memperkuat pengawasan, sekaligus membangun kepercayaan investor terhadap perdagangan karbon Indonesia.

Sistem tersebut juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia di pasar karbon global karena seluruh proses transaksi dapat ditelusuri secara utuh.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan keberhasilan perdagangan karbon Indonesia ke depan tidak hanya bergantung pada bertambahnya jumlah proyek karbon, tetapi juga pada kualitas tata kelola dan integrasi data.

Karena itu, SRUK dirancang sebagai sistem registrasi yang mencatat seluruh siklus perdagangan karbon, mulai dari pencatatan proyek, sertifikasi, perdagangan, pelaporan hingga proses retirement atau penghapusan unit karbon.

"Pengembangan SRUK ini memastikan pencatatan unit karbon yang transparan dan kredibel. Salah satu faktor utama yang akan menentukan sukses tidaknya perdagangan unit karbon adalah integrasi SRUK dengan IDX Carbon," kata Friderica dalam acara peluncuran SRUK di Jakarta, Kamis (9/7)

Menurut dia, integrasi SRUK dengan Bursa Karbon Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi blockchain akan menciptakan sistem yang lebih kredibel dan mudah diawasi. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk investor dan lembaga internasional, dapat melihat proses perdagangan karbon secara menyeluruh melalui satu platform.

"SRUK akan menjadi single source of truth, sumber data utama yang akan menjadi acuan seluruh pihak dalam perdagangan karbon Indonesia," katanya.

Friderica menjelaskan konsep tersebut akan mempermudah pengawasan sekaligus memastikan setiap unit karbon memiliki jejak transaksi yang jelas. Dengan demikian, regulator dapat menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, sementara pelaku pasar memperoleh kepastian mengenai validitas kredit karbon yang diperdagangkan.

Transaksi masih kecil

Meski infrastrukturnya terus diperkuat, ukuran pasar karbon Indonesia masih relatif terbatas. Hingga kini volume transaksi baru mencapai sekitar 1,98 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) dengan nilai transaksi sekitar Rp93 miliar.

Sepanjang pengoperasiannya, Bursa Karbon Indonesia telah membukukan 431 transaksi yang melibatkan 155 pengguna jasa karbon.

Friderica mengakui angka tersebut belum mencerminkan potensi Indonesia yang memiliki sumber daya karbon terbesar di kawasan. Namun, ia menilai pencapaian tersebut menunjukkan fondasi pasar telah terbentuk dan siap memasuki fase pertumbuhan berikutnya.

"Kehadiran SRUK diharapkan membuat angka-angka tersebut terus meningkat, baik dari sisi volume maupun nilai transaksi," ujarnya.

Selain mendorong pertumbuhan pasar, OJK juga menekankan pentingnya menjaga integritas perdagangan karbon. Regulator berkomitmen memperkuat perlindungan investor dan mencegah berbagai praktik yang dapat merusak kredibilitas pasar, seperti greenwashing, social washing, maupun penyalahgunaan unit karbon.

Sebagai regulator sektor jasa keuangan, OJK juga akan memperkuat pengawasan berbasis risiko iklim serta mendorong lembaga jasa keuangan berperan lebih besar dalam pembiayaan hijau dan perdagangan karbon.

Demi mendukung ekosistem tersebut, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK (POJK) No.10/2026 yang resmi berlaku sejak 6 Juli 2026. Regulasi tersebut menjadi salah satu instrumen baru dalam pengembangan perdagangan karbon nasional, melengkapi kebijakan keuangan berkelanjutan dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia.

Dari sisi bursa, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, melihat peluncuran SRUK akan memperluas pasokan kredit karbon yang dapat diperdagangkan di IDX Carbon.

Menurutnya, sejak dibuka untuk perdagangan internasional pada tahun lalu, permintaan dari luar negeri terutama datang untuk kredit karbon yang berasal dari proyek berbasis alam (nature-based).

Kehadiran SRUK diharapkan mempercepat masuknya proyek-proyek baru sehingga pilihan kredit karbon di pasar menjadi lebih beragam.

"Dengan lebih banyak supply dari berbagai sektor, tentu diharapkan perdagangan di bursa karbon akan lebih baik," ujar Jeffrey saat ditemui pada kesempatan yang sama.

Ia mengatakan BEI belum menetapkan target peningkatan transaksi karena masih menunggu perkembangan implementasi SRUK. Namun, jika proyek yang tercatat di sistem registri makin banyak, likuiditas perdagangan karbon diyakini akan meningkat.

SRUK akan menjalankan fungsi pasar primer (primary market), yakni tempat penciptaan dan registrasi unit karbon. Setelah terdaftar, kredit karbon tersebut dapat diperdagangkan di IDX Carbon sebagai pasar sekunder (secondary market).

"SRUK dan bursa karbon sudah terintegrasi," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article