Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
AI Bisa Pacu PDB RI, Confluent Ungkap Tantangan Penerapannya di Industri
Konferensi Pers Data Streaming World Tour Jakarta 2026 dari Confluent, Inc/Dok Fortune IDN
  • Adopsi AI diproyeksi dapat menambah kontribusi 3,67 persen terhadap PDB Indonesia.

  • Confluent menyoroti tantangan utama penerapan AI di perusahaan Indonesia.

  • Pendekatan data streaming dinilai mampu menekan biaya hingga 40–70 persen.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Perluasan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diproyeksikan bakal memberikan suntikan segar sebesar 3,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Proyeksi tersebut dikemukakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di tengah derasnya transformasi digital yang melanda berbagai sektor industri pada ranah domestik.

Pemanfaatan teknologi mutakhir ini mulai merambah layanan keuangan, e-commerce, logistik, hingga telekomunikasi. Sejumlah korporasi besar berlomba-lomba memacu penggunaan AI guna meningkatkan pengalaman pelanggan serta membuka pundi-pundi pendapatan baru.

Kendati demikian, jalan menuju penerapan AI yang paripurna masih menemui berbagai sandungan.

Persoalan mendasar tersebut mengemuka dalam forum Data Streaming World Tour Jakarta 2026 yang dihelat oleh Confluent, Inc. di Jakarta, Selasa (21/4). Andrew Sellers, VP Technology Strategy & Enablement Confluent, memaparkan banyak perusahaan gagal menerapkan AI bukan lantaran model teknologinya yang usang. Akar masalah justru terletak pada ketidaksiapan data yang digunakan.

"Masih adanya kesenjangan yang kerap luput disadari, yakni ketidakmampuan sistem dalam menyediakan data real-time yang berkualitas untuk mendukung kinerja AI secara optimal,” ujar Sellers.

Dalam kesempatan yang sama, Area Vice President Asia Confluent, Rully Moulany, menegaskan pentingnya strategi teknologi yang konkret bagi para pucuk pimpinan perusahaan. Menurutnya, fokus utama kini bukan lagi sekadar mengadopsi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat beroperasi secara andal dalam skala besar.

“Seiring dengan percepatan transformasi digital yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Indonesia, pertanyaannya kini bukan lagi apakah perusahaan akan mengadopsi AI — melainkan bagaimana cara memastikan AI dapat beroperasi secara handal dalam skala besar,” kata Rully.

Lebih lanjut, Rully menjelaskan AI membutuhkan fondasi data yang mengalir secara real-time dan kontekstual. Tanpa dukungan data berkualitas tinggi, AI akan sulit memberikan nilai bisnis yang nyata bagi organisasi. Kompleksitas arsitektur data yang tidak terintegrasi juga ditengarai membuat proses analisis menjadi lamban dan tidak efisien.

“Organisasi yang akan memimpin saat ini dan dalam dekade mendatang adalah mereka yang menguasai tidak hanya kualitas data, tetapi juga kecepatan data,” katanya.

Selain kendala teknis, optimalisasi biaya operasional tetap menjadi sorotan utama. Perusahaan dituntut menekan total cost of ownership (TCO) tanpa menggerus performa sistem. Walhasil, pendekatan data streaming dinilai menjadi solusi jitu dengan potensi efisiensi biaya mencapai 40-70 persen.

Guna menjawab tantangan tersebut, Confluent memperkenalkan "Confluent Intelligence". Rangkaian fitur ini dirancang mempercepat pengembangan aplikasi AI dengan memanfaatkan large language models (LLM). Sistem ini mampu mengidentifikasi skema data secara otomatis, sehingga tim pengembang dapat bekerja lebih efisien dan fokus pada aspek inovasi.

Editorial Team