Jakarta, FORTUNE - CEO Nvidia, Jensen Huang, memperingatkan bahwa krisis pasokan memori (RAM) global masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan pesimistis sejumlah pelaku industri yang memperkirakan tekanan terhadap harga komponen komputer belum akan mereda dalam waktu dekat.
Menurut laporan Reuters, Huang menyebut krisis memori akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan. Pernyataan itu disampaikan menjelang pengumuman kemitraan teknologi jangka panjang antara Nvidia dan SK Hynix untuk pengembangan teknologi memori generasi berikutnya.
"Kami bekerja di berbagai industri, mulai dari superkomputer AI, CPU, PC generasi baru, hingga robotika. Karena itu kami berada di sini untuk merencanakan berbagai hal dan mungkin besok akan ada beberapa pengumuman," ujarnya Huang, mengutip Reuters.
Komentar Huang muncul di tengah perdebatan mengenai kapan pasar memori global akan pulih. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah analis mulai melihat tanda-tanda stabilisasi harga. Bahkan, mantan kepala bisnis semikonduktor Samsung sebelumnya memperkirakan kelangkaan RAM dapat mulai mereda dalam satu tahun ke depan atau paling lambat awal 2028, didukung peningkatan produksi dari produsen chip memori asal Tiongkok.
Meskupun demikian, Huang mengatakan belum melihat tanda-tanda berakhirnya kelangkaan memori yang saat ini melanda industri semikonduktor.
"Seluruh rantai pasok industri—mulai dari wafer, pengemasan chip (packaging), hingga silikon fotonik semuanya mengalami kekurangan pasokan karena permintaannya sangat tinggi. Kondisi ini akan terus berlangsung selama beberapa tahun ke depan," katanya.
