Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Sinergi FTTH–FWA, MyRepublic Ungkap Strategi Dorong Pemerataan Internet
MyRepublic Indonesia ungkap jurus percepat pemerataan internet di Indonesia. (dok.MyRepublic)
  • MyRepublic Indonesia mengusung strategi hybrid dengan menggabungkan teknologi Fiber to the Home (FTTH) dan Fixed Wireless Access (FWA) untuk mempercepat pemerataan akses internet nasional.
  • FTTH difokuskan di wilayah urban karena stabilitas dan kapasitas tinggi, sementara FWA digunakan memperluas jangkauan ke area semi-urban hingga daerah yang belum terlayani jaringan fiber.
  • Keberhasilan strategi ini bergantung pada dukungan regulasi seperti alokasi spektrum dan insentif investasi agar industri dapat memperluas layanan secara efisien dan mendukung inklusi digital nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan penyedi jaringan internet, MyRepublic Indonesia menilai kombinasi teknologi fiber dan nirkabel menjadi kunci mempercepat penetrasi broadband nasional di tengah tantangan geografis dan disparitas akses digital. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibanding mengandalkan satu teknologi tunggal.

Pandangan tersebut disampaikan dalam seminar Institut Teknologi Bandung (ITB). Forum ini mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah pengembangan infrastruktur digital.

Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan, mengatakan bahwa pengembangan jaringan Fiber to the Home (FTTH) dan Fixed Wireless Access (FWA) memiliki tantangan struktural yang berbeda. FTTH membutuhkan investasi besar dan pembangunan infrastruktur yang kompleks, sementara FWA menghadapi keterbatasan spektrum serta isu konsistensi kualitas layanan.

Untuk itu, perusahaan mengadopsi strategi berbasis karakteristik wilayah. FTTH difokuskan pada area urban dengan kebutuhan bandwidth tinggi, sedangkan FWA dimanfaatkan untuk mempercepat ekspansi di wilayah semi-urban hingga area yang belum terjangkau jaringan fiber.

“FTTH tetap menjadi backbone utama karena stabilitas dan kapasitasnya, sementara FWA berfungsi sebagai akselerator penetrasi pasar dan perluasan jangkauan,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, kedua teknologi tersebut tidak bersifat substitusi, melainkan saling melengkapi dalam membangun ekosistem konektivitas nasional. Oleh karenanya, FTTH tetap menjadi backbone utama dalam menghadirkan konektivitas yang stabil dan berkapasitas tinggi, sementara FWA berperan sebagai pelengkap untuk memperluas jangkauan layanan serta membuka peluang pasar baru. Meski dinamika harga FWA di pasar tidak berdampak langsung terhadap layanan FTTH, hal ini tetap menjadi perhatian industri dalam membentuk ekspektasi harga ke depan.

Seiring ekspansi jaringan, MyRepublic terus memperluas layanan fiber optik berkapasitas tinggi di berbagai kota. Di sisi lain, FWA diposisikan sebagai solusi alternatif untuk menjangkau wilayah yang secara ekonomi atau geografis belum feasible untuk penetrasi fiber.

Dari sisi industri, keberhasilan strategi hybrid ini juga dinilai sangat bergantung pada dukungan regulasi, terutama terkait alokasi spektrum, insentif investasi, serta kepastian kebijakan infrastruktur digital.

“Kami melihat FTTH, FWA, dan selular bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai solusi yang saling melengkapi. Dukungan regulasi dan insentif yang tepat akan sangat menentukan kecepatan industri dalam memperluas jangkauan layanan,” kata Hendra dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4).

Dengan pendekatan yang berbasis kebutuhan pelanggan dan kondisi wilayah, perusahaan optimistis dapat menghadirkan konektivitas yang lebih merata, berkualitas, dan terjangkau.

Ke depan, MyRepublic menargetkan pengembangan jaringan yang lebih adaptif dengan mengedepankan efisiensi investasi dan perluasan jangkauan. Strategi ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat inklusi digital dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi berbasis konektivitas.

Editorial Team

EditorEkarina .