Jakarta, FORTUNE - Arus informasi yang bergerak semakin cepat di ruang digital dinilai membuat masyarakat Indonesia semakin rentan mengalami kelelahan mental dan kelelahan digital (digital fatigue) sekaligus mengambil keputusan secara impulsif, mulai dari mengklik konten sensasional hingga melakukan transaksi tanpa verifikasi memadai. salah satu pemicu yakni penggunaan media sosial yang berlebihan yang mendorong individu terus menatap layar.
Menilik laporan “Global Digital Reports 2026”, Indonesia resmi menduduki peringkat ke-16 dunia sebagai negara dengan durasi penggunaan media sosial tertinggi. Rata-rata durasi penggunaan media sosial masyarakat Indonesia mencapai 3 jam 7 menit per hari, lebih tinggi dibanding rata-rata global sebesar 2 jam 39 menit. Kebiasaan scrolling di media sosial juga kerap dianggap sebagai bentuk istirahat, padahal justru dapat memicu kelelahan kognitif, gangguan tidur, sakit kepala, hingga kecemasan.
Tekanan untuk selalu responsif terhadap pesan dan arus informasi yang tidak pernah berhenti juga dinilai menjadi pemicu stres baru di era digital. Di tengah kondisi tersebut, kebiasaan berhenti sejenak atau micro-pause mulai dipandang sebagai bagian dari praktik wellness modern untuk menjaga kejernihan pikiran dan kualitas pengambilan keputusan sehari-hari. Sebagian masyarakat mulai menerapkan pause culture dengan membatasi penggunaan gawai secara sadar dan mengambil jeda singkat sebelum bereaksi terhadap suatu situasi.
Di tengah tren tersebut, Blibli bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar eksperimen sosial yang melibatkan lebih dari 158 ribu warga Indonesia untuk mengamati perilaku impulsif masyarakat di ruang digital. Hasilnya, tujuh dari 10 partisipan mengaku merasa lebih tenang setelah mengambil jeda singkat sebelum merespons situasi tertentu, baik secara daring maupun luring.
Eksperimen yang berlangsung pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026 itu memperkenalkan konsep JEDA—Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, dan Ambil keputusan dengan tenang. Pendekatan tersebut mendorong kebiasaan pause culture atau berhenti sejenak sebelum merespons situasi di tengah tingginya intensitas interaksi digital.
Temuan tersebut muncul di tengah meningkatnya risiko aktivitas digital di Indonesia. Data Indonesia Anti Scam Center mencatat terdapat 432.637 laporan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun sepanjang 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026. Sementara itu, survei APJII 2025 menunjukkan 22,12 persen pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.
Fenomena tersebut mendorong sejumlah pemangku kepentingan menilai kemampuan berhenti sejenak sebelum bereaksi kini menjadi bagian penting dari literasi digital sekaligus perlindungan konsumen.
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengatakan temuan dari survei/social experiment ini memperlihatkan bahwa tantangan utama bukan hanya akses terhadap informasi, tetapi bagaimana masyarakat meresponsnya.
"Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (19/5).
Eksperimen tersebut dilakukan melalui microsite jeda10detik.com yang dirancang sebagai ruang micro-pause sekaligus sarana pengamatan perilaku digital masyarakat. Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan, Bank Indonesia, serta Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA).
