Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
BI Rate Naik, Pembeli Rumah Menengah Paling Terdampak
ilustrasi perumahan di Amerika Serikat (unsplash.com/Jane Sorensen)
  • Kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen dinilai paling menekan pembeli rumah segmen menengah yang bergantung pada KPR tanpa dukungan subsidi pemerintah.

  • Dampak kenaikan bunga kredit tidak langsung terasa, tapi calon pembeli baru cenderung menunda keputusan karena cicilan berpotensi lebih mahal dan daya beli melemah.

  • Pasar properti masih dalam fase pemulihan dengan pertumbuhan moderat, sementara tantangan keterjangkauan perumahan meningkat akibat harga rumah naik lebih cepat dari pendapatan masyarakat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Kebijakan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50 persen diproyeksikan bakal memukul telak segmen pembeli rumah kelas menengah. Kelompok konsumen ini menaruh ketergantungan besar pada fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Mereka kini berada pada posisi paling rawan di tengah fluktuasi sektor properti nasional.

Barisan konsumen kelas menengah ini dinilai berada dalam posisi dilematis. Berbeda dari kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), mereka tidak berhak memperoleh guyuran subsidi dari pemerintah. Namun di sisi lain, ketahanan finansial mereka belum sekuat kelompok pembeli rumah premium atau mewah.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengemukakan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin belum cukup kuat merombak fundamental sektor properti secara drastis. Kendati demikian, imbas rembetannya terhadap kelompok konsumen tertentu tidak boleh dipandang sebelah mata.

" Mereka sangat bergantung pada fasilitas KPR sehingga lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga maupun penurunan daya beli," kata Ferry dalam pernyataannya.

Pembengkakan bunga kredit tidak berjalan secara serta-merta dan menyeluruh. Namun, potensi kenaikan tersebut tetap membayangi beban cicilan rumah menjadi lebih menguras kantong.

Secara teoretis, lonjakan BI Rate akan memicu kenaikan biaya dana perbankan (cost of fund). Hal inilah yang kemudian mendorong penyesuaian bunga kredit perbankan, termasuk sektor KPR. Tatkala bunga KPR mendongak, daya serap masyarakat untuk membeli rumah bakal menyusut akibat beban angsuran bulanan yang kian meninggi.

Walau demikian, Ferry menegaskan gerak naik BI Rate tidak otomatis diteruskan satu banding satu ke bunga KPR. Sektor perbankan dipastikan masih menimbang pelbagai indikator strategis. Pertimbangan tersebut meliputi kondisi likuiditas, tingkat persaingan antar-bank, siasat bisnis, serta target pertumbuhan kredit sebelum mematok bunga pinjaman baru.

"Dampak yang dirasakan masyarakat umumnya lebih kecil dibandingkan persepsi awal ketika mendengar suku bunga acuan naik," ujar Ferry.

Di lain pihak, barisan calon pembeli rumah yang tengah menjajaki KPR baru menjadi kelompok yang paling cepat merasakan perubahan ini. Mereka kini cenderung menghitung ulang ketahanan finansial sebelum meneken kontrak pembelian rumah. Fenomena ini membuat sebagian calon konsumen memilih mengambil sikap wait and see hingga arah suku bunga dan iklim ekonomi ke depan menunjukkan kepastian.

Nasib berbeda dialami para debitur lama. Konsumen yang masih berada dalam masa bunga tetap (fixed rate) umumnya belum mengalami perubahan nilai cicilan rumah. Sebaliknya, para debitur yang telah memasuki fase bunga mengambang (floating rate) harus bersiap menghadapi potensi penyesuaian nilai cicilan apabila perbankan resmi mengerek suku bunga kreditnya.

Pasar properti Indonesia masih pemulihan

Ferry menilai ancaman terbesar bagi sektor properti saat ini sebenarnya bukan berasal dari kenaikan suku bunga semata.

"Risiko terbesar bagi pasar properti sebenarnya bukan kenaikan bunga itu sendiri, melainkan apabila kenaikan bunga terjadi bersamaan dengan melemahnya daya beli masyarakat," ujarnya.

Menurut Ferry, pasar properti Indonesia saat ini masih berada dalam fase pemulihan. Karena itu, kenaikan BI Rate lebih berpotensi memperlambat laju pertumbuhan pasar ketimbang membalikkan arah pasar menjadi negatif.

Ia juga mengingatkan persoalan keterjangkauan perumahan (housing affordability) makin menjadi tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan harga rumah di berbagai wilayah tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Kondisi tersebut membuat ruang masyarakat dalam menyerap tambahan beban cicilan makin terbatas.

Jika kenaikan suku bunga diikuti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya hidup, sebagian calon pembeli rumah berpotensi menunda keputusan pembelian. Akibatnya, pertumbuhan pasar properti tahun ini diperkirakan tetap positif, tetapi berlangsung lebih moderat dibandingkan jika daya beli masyarakat berada dalam kondisi yang lebih kuat.

Di tengah tekanan tersebut, Ferry menilai prospek sektor properti masih relatif terjaga. Pasar diperkirakan akan kian selektif, dengan permintaan tetap mengalir pada produk yang sesuai kebutuhan, memiliki harga terjangkau, berada di lokasi strategis, dan didukung skema pembayaran yang fleksibel.

"Pasar properti tahun ini kemungkinan akan lebih banyak ditopang oleh kebutuhan riil dibandingkan pembelian yang didorong motif investasi jangka pendek," katanya. 

Editorial Team

Related Article