Dari Hyundai ke Merek Cina: Metamorfosis Pabrik Handal

HIM merakit mobil pertama Elantra di pabrik Bekasi yang direvitalisasi dari fasilitas lama.
Krisis moneter 1997 menggagalkan rencana besar pembangunan pabrik Hyundai di Purwakarta.
Setelah berpisah dengan Hyundai, HIM bertransformasi dengan merakit berbagai merek Cina seperti Neta, Chery, dan Geely, bahkan memperluas kapasitas lewat pembangunan pabrik baru di Purwakarta pada 2023.
Jakarta, FORTUNE - Handal Indonesia Motor (HIM) mengalami perjalanan pada industri otomotif yang bukan sekadar tentang perakitan kendaraan, tapi juga bertahan di tengah gelombang bisnis yang silih berganti—dari mobil Korea hingga merek-merek Cina yang kini membanjiri pasar.
Awal cerita itu dimulai pada awal dekade 1990-an, ketika Hyundai pertama kali menjejakkan bisnisnya di Indonesia. Kala itu, perusahaan yang masih bernama Hyundai Indonesia Motor dipercaya menjadi agen tunggal pemegang merek Hyundai di Tanah Air sekaligus basis perakitan lokal.
“Kami jadi agen tunggal Hyundai itu 26 tahun, dari 1994 sampai 2020, dan kami langsung merakit dari awal, bukan CBU,” kata Wakil Komisaris Utama HIM, Jongkie D. Soegiarto kepada Fortune Indonesia.
Langkah pertama mereka cukup pragmatis. Alih-alih membangun fasilitas baru dari nol, perusahaan mengambil alih sebuah pabrik tua milik PT Zastam Motor Indonesia di Pondok Ungu, Bekasi, yang sudah mangkrak selama 13 tahun. Pabrik tersebut kemudian direnovasi besar-besaran—mulai dari penggantian paint shop hingga modernisasi lini produksi.
“Bangun pabrik dari nol itu lama. Kami ambil alih yang sudah ada, kami renovasi, dan langsung produksi,” kata Jongkie.
Hasilnya adalah Hyundai Elantra, mobil pertama yang dirakit di fasilitas itu pada 1995. Dari sana, roda bisnis Hyundai di Indonesia mulai berputar.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Pada pertengahan 1990-an, pemerintah meluncurkan program mobil nasional melalui Inpres No. 2 Tahun 1996. Di tengah kompetisi yang sarat nuansa politik, HIM mencoba ikut serta dengan mengganti nama dua model Hyundai menjadi Cakra dan Nenggala.
Meski begitu, proyek ambisius membangun pabrik besar Hyundai di Purwakarta akhirnya kandas ketika krisis moneter 1997 menghantam Asia.
“Kontrak sudah siap, mesin sudah disusun, tapi saya bilang setop. Tidak ada uang. Dolar naik terus,” ujar Jongkie.
Memasuki era 2000-an, perusahaan bangkit perlahan. Berbagai model seperti Hyundai Atoz, Tucson, hingga H-1 dirakit di Bekasi. Bahkan pada 2010, Hyundai mempercayakan Indonesia sebagai basis produksi H-1 untuk pasar ASEAN—sebuah pengakuan penting atas kemampuan manufaktur lokal.
Namun, kemitraan panjang itu akhirnya berakhir pada 2020 ketika Hyundai memutuskan membangun pabrik sendiri di Indonesia. Bagi HIM, keputusan tersebut menjadi pukulan telak setelah 26 tahun bekerja sama.
Alih-alih tenggelam, perusahaan memilih beradaptasi. Sejak 2017, manajemen mulai menjajaki kemitraan baru dengan produsen otomotif dari Cina yang tengah naik daun. Strategi itu akhirnya berbuah hasil.
Merek seperti Neta dan Chery menjadi mitra pertama yang merakit mobil di fasilitas HIM, disusul oleh sejumlah brand lain seperti Jetour, Geely, Jaecoo, hingga BAIC. Kini total ada sekitar 10 merek kendaraan yang dirakit di pabrik mereka.
Transformasi ini bahkan mendorong ekspansi. Pada 2023, ketika kapasitas pabrik Bekasi mencapai batas maksimal, HIM membangun fasilitas kedua di Purwakarta—di lahan yang dulu direncanakan untuk proyek mobil nasional (mobnas) yang gagal.
Hari ini, perusahaan itu dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai “tukang jahit” industri otomotif: merakit kendaraan dengan presisi bagi berbagai merek berbeda. Filosofi sederhana itu justru menjadi sumber kekuatan mereka.
Bagi HIM, perjalanan dari pabrik mobil Korea menjadi rumah bagi merek-merek Cina bukan sekadar pergantian mitra. Itu adalah bukti bahwa dalam industri yang terus berubah, fleksibilitas dan logika bisnis sering kali lebih penting daripada sekadar nama besar.


















