BUSINESS

Startup Aquatech JALA Kantongi Pendanaan Seri A Rp202 M

Pendanaan dipimpin Intudo Ventures.

Startup Aquatech JALA Kantongi Pendanaan Seri A Rp202 MDOK. JALA

by Desy Yuliastuti

28 November 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - JALA, startup aquatech yang berfokus pada industri udang, mendapatkan pendanaan seri A sebesar US$13,1 juta atau setara dengan Rp202,2 miliar. Pendanaan ini dipimpin oleh Intudo Ventures, dengan dukungan dari SMDV, serta investor terdahulu Mirova dan Meloy Fund (Deliberate Capital).

Dana segar yang berhasil dihimpun JALA akan digunakan untuk memperluas cakupan operasional perusahaan di tiga wilayah strategis, yaitu Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Ketiga wilayah ini dianggap memiliki potensi unik yang signifikan untuk pertumbuhan industri budi daya udang. Selain itu, sebagian dari dana juga akan dialokasikan untuk memperkuat teknologi yang digunakan dalam JALA App dengan menghadirkan fitur-fitur baru yang inovatif.

Sebelumnya, JALA mengumumkan perolehan pendanaan pada November 2021 sebesar US$6 juta. Dalam pendanaan seri A ini, sejumlah investor ventura yang berfokus pada investasi berdampak ikut berpartisipasi, termasuk The Meloy Fund (yang dikelola oleh Deliberate Capital dari Amerika Serikat), Real Tech Fund (dari Jepang), dan Mirova (dari Prancis).

Menuju industri udang Indonesia yang berkelanjutan

Dok. JALA

Co-founder dan CEO JALA, Liris Maduningtyas, menegaskan bahwa inti dari misi perusahaan adalah membuka jalan menuju industri udang Indonesia yang berkelanjutan di masa depan. Dukungan dari Intudo dan SMDV turut berperan mewujudkan misi tersebut.

“Pendanaan ini memungkinkan kami untuk menghadirkan solusi ke daerah-daerah terpencil di Indonesia dan membekali petambak setempat dengan dukungan teknologi dan pendanaan yang mereka butuhkan untuk memajukan produksi udang Indonesia,” ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (28/11).

Founding Partner dari Intudo Ventures, Patrick Yip, mengatakan Indonesia sebagai produsen udang terbesar keempat di dunia, memegang peran penting dalam rantai pasok seafood secara global. Seiring dengan pertumbuhan industri udang di Indonesia, kebutuhan akan solusi budi daya udang yang modern juga mengalami peningkatan.

"Rangkaian solusi digital JALA membantu petambak menciptakan nilai ekonomi yang nyata, meningkatkan hasil budi daya, dan menetapkan arah pada praktik budi daya yang berkelanjutan—membawa udang Indonesia ke pasar global," kata Patrick.

Perjalanan JALA

JALA, didirikan pada tahun 2017 oleh Aryo Wiryawan (Chairman) dan Liris Maduningtyas (CEO), menyajikan solusi komprehensif untuk petambak udang di Indonesia. JALA tidak hanya fokus meningkatkan aspek ekonomi budi daya udang, tetapi juga berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan.

Solusi end-to-end JALA menyederhanakan proses budi daya udang, meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan. Melalui JALA App, petambak dapat memantau dan menganalisis setiap aspek budi daya secara real time, dari pemantauan tambak hingga distribusi hasil panen ke pasar.

Layanan tambahan mencakup credit scoring tambak untuk akses pendanaan yang terjangkau, layanan akses panen untuk distribusi produk ke pasar, serta pendampingan tambak dalam mengatasi tantangan sehari-hari. JALA telah dipercaya oleh lebih dari 20.000 pengguna dan memantau lebih dari 35.300 kolam udang.

Menghadapi masa depan, JALA App akan dilengkapi dengan prediksi performa budi daya, kualitas air, dan penyakit udang, serta automasi input data. Kolaborasi dengan Conservation International juga menciptakan Climate Smart Shrimp sebagai langkah intensifikasi gabungan dengan restorasi mangrove untuk tambak udang tradisional.