Comscore Tracker
BUSINESS

Hyundai-LG Investasi Hampir Rp15 Triliun di Karawang

Hyundai-LG akan bentuk usaha patungan dengan IBC.

Hyundai-LG Investasi Hampir Rp15 Triliun di KarawangDok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menandatangani Nota Kesepahaman dengan Konsorsium Hyundai terkait pembangunan pabrik sel baterai kendaraan listrik (EV) di Karawang, Jawa Barat, dengan total nilai investasi sebesar US$1,1 miliar atau hampir Rp15 triliun.

Dalam pembangunan pabrik tersebut, Konsorsium Hyundai yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution akan bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC).

Bahlil menyampaikan apresiasinya kepada pihak Hyundai, LG, maupun IBC. Perjanjian kerja sama itu, kata Bahlil, terealisasi dengan proses dan negosiasi yang panjang agar dapat menguntungkan semua pihak. 

Ia juga mengingatkan para pihak yang terikat perjanjian investasi tersebut untuk menggandeng pengusaha dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal sebagaimana amanat Undang-Undang No.11/2020 tentang Cipta Kerja (UU CK).

"Kami akan kawal dari awal sampai akhir investasi untuk baterai sel ini," ujar Bahlil dalam sambutannya seperti tertulis dalam keterangan resmi, Kamis (29/7).

Dalam kesempatan itu, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Park Taesung, mengatakan kerja sama investasi mobil listrik dan baterai tersebut akan menjadi kontributor bagi perekonomian yang lebih berorientasi pada lingkungan, teknologi, dan ekspor.

"Saya sebagai Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia akan menggerakkan segala dukungan agar kerja sama ini menjadi salah satu kerja sama yang sukses dan terbaik antara Korea dan Indonesia," ujar Park.

Sementara itu, Direktur Utama IBC, Toto Nugroho, mengatakan kerja sama tersebut menjadi momentum dalam pembentukan industri baterai dan kendaraan listrik nasional. Indonesia sendiri memiliki potensi menjadi pemain global industri baterai karena menyimpan 24 persen cadangan nikel dunia.

Setelah ini, IBC selaku holding BUMN Baterai--gabungan PLN, Pertamina, MIND ID, dan Antam--akan membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV) dengan Konsorsium Hyundai.

"Kami akan memproduksi baterai secara kompetitif untuk memenuhi kebutuhan Indonesia dan juga untuk ekspor," kata Toto.

Sedangkan CEO Hyundai Mobis Co. Ltd., Sung Hwan Cho, menyampaikan komitmennya untuk mengembangkan mobil listrik dan ekosistemnya di Indonesia. Jika tak ada hambatan, peletakan batu pertama pembangunan pabrik ditargetkan terealisasi tahun ini. 

Fasilitas sel baterai rencananya memiliki kapasitas produksi sebesar 10 Giga watt Hour (GwH), dan nantinya akan memasok kendaraan listrik produksi Hyundai.

"Berkat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia, kami sudah mencapai target untuk memajukan proyek ini dengan pihak-pihak lain. Saya merasa lebih dekat mencapai target kami, dan sekarang kedua negara akan bermitra untuk mengembangkan mobil listrik dan ekosistem ke depannya," ungkap Cho.

Related Articles