Imlek dan Lebaran Dorong Belanja, Konsumen RI Tetap Selektif

Jakarta, FORTUNE — Momentum hari besar seperti Imlek dan Lebaran terbukti masih menjadi penggerak utama belanja masyarakat Indonesia. Di tengah kecenderungan menahan pengeluaran, konsumen tetap meningkatkan konsumsi pada perayaan budaya dan keagamaan tersebut.
Laporan Asia Consumer Study 2026 dari Roland Berger mencatat bahwa tradisi memiliki pengaruh kuat dalam pola konsumsi di Indonesia. Perayaan seperti Idul fitri dan Tahun Baru Imlek secara konsisten memicu lonjakan belanja, baik untuk kebutuhan pokok maupun kategori non-esensial.
Fenomena ini terjadi di tengah sikap konsumen yang semakin berhati-hati. Indonesia bahkan termasuk negara di Asia yang menunjukkan niat paling kuat untuk mengurangi pengeluaran dalam beberapa tahun ke depan.
“Asia tetap menjadi mesin pertumbuhan konsumsi global—namun skala saja tidak lagi cukup. Babak berikutnya akan dimiliki oleh mereka yang mampu mengubah pertumbuhan struktural menjadi momentum yang berkelanjutan,” ujar Hugo Texier, Partner di Roland Berger, dalam siaran pers (30/3).
Kenaikan musiman sesaat
Kondisi tersebut menciptakan pola konsumsi yang kontras. Di satu sisi, masyarakat cenderung menekan belanja harian. Namun di sisi lain, mereka tetap “all out” saat momen spesial.
Secara keseluruhan, konsumsi domestik Indonesia mencapai sekitar US$824 miliar, dengan 58 persen konsumen masih optimistis terhadap masa depan. Namun, optimisme ini tidak otomatis diterjemahkan menjadi peningkatan belanja rutin.
Kebutuhan pokok tetap mendominasi pengeluaran, dengan tiga kategori utama yakni makanan dan minuman, kebutuhan rumah tangga, serta pendidikan.
Di luar faktor musiman, keputusan belanja konsumen Indonesia kini semakin rasional. Lebih dari 70 persen konsumen memprioritaskan kualitas, harga, dan kemudahan dalam membeli produk.
Hal ini menunjukkan bahwa lonjakan belanja saat Imlek dan Lebaran pun tidak lagi impulsif semata, melainkan tetap mempertimbangkan nilai produk secara matang.
Dipengaruhi tradisi
Kuatnya pengaruh momen seperti Imlek dan Lebaran tidak lepas dari karakter konsumen Indonesia yang masih sangat dipengaruhi nilai tradisi. Studi ini mencatat sekitar 33 persen populasi masuk dalam kategori “tradition keepers”.
Kelompok ini menjadikan nilai budaya, kebiasaan, dan perayaan sebagai faktor penting dalam keputusan konsumsi—termasuk kapan harus berbelanja lebih besar dari biasanya.
Bagi pelaku usaha, pola ini menciptakan peluang sekaligus tantangan: permintaan bisa melonjak tajam dalam periode tertentu, tetapi cenderung melemah di luar musim.
Loyalitas merek menurun
Di sisi lain, lanskap pasar Indonesia semakin dinamis. Sebanyak 45 persen konsumen kini terbuka untuk mencoba merek baru, naik dari 35 persen pada tahun sebelumnya.
Sebaliknya, preferensi terhadap merek lokal justru turun drastis dari 57 persen menjadi 33 persen. Artinya, momentum belanja seperti Lebaran dan Imlek juga menjadi ajang perebutan konsumen yang semakin terbuka terhadap berbagai pilihan.
Asia Tumbuh, Tapi Lebih Selektif
Secara regional, Asia diproyeksikan tetap menjadi motor pertumbuhan konsumsi global dengan kenaikan hampir 40 persen dalam satu dekade ke depan. Namun, pola pertumbuhannya berubah: lebih bertumpu pada kebutuhan esensial dan momentum tertentu.
Indonesia mencerminkan tren tersebut dengan jelas—di mana tradisi tetap menjadi pemicu utama belanja, tetapi di luar itu, konsumen semakin disiplin mengelola pengeluaran.
Bagi pelaku bisnis, ini berarti satu hal: memahami kalender budaya bukan lagi sekadar strategi pemasaran tambahan, melainkan kunci untuk menangkap puncak permintaan di pasar yang semakin selektif.
Roland Berger melakukan survei terhadap lebih dari 3.500 konsumen di 11 pasar Asia (Tiongkok daratan, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam) dalam Asia Consumer Study kali ini. Para responden menjawab 20 pertanyaan dalam 14 kategori untuk memetakan perilaku konsumen pada 2025/2026.


















