Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Menara Tanpa Besi: Inovasi Mitratel Menjawab Tantangan Infrastruktur

Menara Tanpa Besi: Inovasi Mitratel Menjawab Tantangan Infrastruktur
Menara Mitratel. (dok. Mitratel)
Intinya Sih
  • Mitratel memperkenalkan menara telekomunikasi berbahan glass fiber reinforced polymer (GFRP) sebagai pengganti besi dan baja untuk menekan emisi karbon serta meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
  • Material GFRP terbukti lebih ringan 60 persen, tahan korosi, mudah dirawat, dan mampu menghemat biaya material hingga 10 persen dibandingkan menara logam konvensional.
  • Setelah riset sejak 2022, Mitratel mulai menerapkan menara GFRP pada 2024 di enam lokasi Kalimantan dan Sulawesi, dengan rencana ekspansi seiring berkembangnya ekosistem manufaktur dalam negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Bagi PT Dayamitra Telekomunikasi TBK atau Mitratel, prinsip- prinsip ESG bukan cuma penghias bisnis belaka, tapi fondasi penting bagi strategi perusahaan dalam jangka panjang.

Penerapan asas keberlanjutan itu mereka anggap berkontribusi tidak saja terhadap lingkungan, tapi juga efisiensi operasional dan kinerja bisnis.

Salah satu inisiatif terbaru yang dijalankan oleh anak usaha Telkom Indonesia itu adalah penggunaan glass fiber reinforced polymer (GFRP) sebagai pengganti besi dan baja pada menara telekomunikasi.

Penggunaan material campuran fiberglass dan resin ini dianggap memiliki dampak lingkungan cukup besar. Pasalnya, besi dan baja membutuhkan proses panjang—mulai dari penambangan, proses logistik dan distribusi yang harus menggunakan truk besar yang haus bahan bakar, hingga penempaan dan fabrikasi yang melepaskan emisi ke udara.

Dengan beralih ke material alternatif, sebagian besar jejak karbon dari rantai proses itu dapat ditekan.

Secara bisnis, penggunaan material ini juga diklaim lebih efisien. Pasalnya, perawatan menara menjadi lebih mudah karena tidak membutuhkan pengecatan berkala; tidak korosif ketika ditempatkan di kawasan pesisir; serta mampu meminimalisir risiko pencurian dan kehilangan besi yang acap kali terjadi di beberapa lokasi.

Hasilnya, dari implementasi yang dilakukan, terjadi penghematan biaya material 10 persen dibandingkan material sebelumnya.

“Mitratel mungkin salah satu yang pertama di [Asia Tenggara] yang menerapkan tower berbahan glass fiber. Kenapa? Karena kami ingin menghadirkan tower yang lebih hijau— meskipun biaya material masih tinggi. Perbedaan dampak lingkungannya besar,” kata Agus Winarno, Direktur Bisnis Mitratel kepada Fortune Indonesia di kantornya pada pertengahan November lalu.

Meski berbobot 60 persen lebih ringan, kekuatan menara berbahan GFRP tidak kalah dari menara berbahan logam dalam menggendong antena dan perangkat telekomunikasi. Sudah begitu, proses pembangunannya lebih cepat dan efisien. Ini menghasilkan peningkatan pada efektivitas operasional.

Karena dirancang untuk kebutuhan pemasangan di area rooftop, menara GFRP hanya memiliki tinggi 15 meter. Jauh lebih pendek dari menara konvensional yang umumnya mencapai sekitar 50 meter. Dengan ukuran lebih ringkas dan struktur yang jauh lebih ringan, menara GFRP pun dapat menjadi solusi ideal bagi kebutuhan kolokasi operator maupun ekspansi menara di lokasi dengan lahan terbatas.

Dari sudut pandang keberlanjutan, pemasangan menara GFRP membantu Mitratel dalam menggunakan baja hingga 1.748 kg atau setara pengurangan karbon 0,119 ton CO2 eq, sebagaimana termaktub pada laporan keberlanjutan perusahaan pada 2024.

“Ke depannya, kami telah menyusun strategi terkait implementasi penggunaan GFRP, di antaranya menjalin kolaborasi dengan mitra strategis, mendorong implementasi 5G, meningkatkan kerja sama dengan pabrikan, dan memperbanyak⁠ menara-menara yang menggunakan bahan ramah lingkungan,” kata Agus.

Riset dan Pengembangan

Menara telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) . (dok. Mitratel)
Menara telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) . (dok. Mitratel)

Sebelum teknologi menara GFRP benar-benar diterapkan pada 2024, Agus mengatakan perusahaannya telah melakukan riset dan pengembangan sejak 2022. Penelitian panjang itu tak terhindarkan. Sebab, berbeda dari pemakaian untuk kebutuhan umum yang material seratnya relatif mudah dibuat, menara telekomunikasi membutuhkan spesifikasi tersendiri.

Konstruksi harus dapat menahan beban besar, berdiri kokoh di ketinggian, hingga menantang cuaca ekstrem.

“Industri menara telekomunikasi merupakan sektor yang memiliki risiko keselamatan tinggi. Tower tidak boleh roboh karena dampaknya langsung pada masyarakat dan layanan komunikasi. Karena itu, proses riset material alternatif membutuhkan waktu panjang dan ketelitian,” kata Agus.

Tahap riset mencakup serangkaian tahapan untuk menjajal ketahanan bahan. Ada uji patah, uji ketahanan angin, uji struktur,hingga penyesuaian formula resin agar memenuhi standar kekuatan menara telekomunikasi. Setelah semua tahapan ujian itu dilalui, pabrikan mulai memproduksi tower dalam bentuk bagian-bagian modular yang kemudian dirakit di lapangan.

Pendekatan ini membuat proses konstruksi jauh lebih cepat dibandingkan dengan pengerjaan tower baja konvensional.

Dari segi desain, GFRP mengikuti standar yang sama dengan konstruksi tower baja, yaitu TIA-22-G yang siap digunakan di berbagai kondisi geografis seperti pesisir (anti-korosi), tebing, pedalaman dan sebagainya.

Sebagai perbandingan, GFRP biasa digunakan untuk struktur jembatan atau konstruksi tangga pada industri konstruksi.

Balikpapan dipilih sebagai lokasi proyek percontohan pertama GFRP pada 2024. Hingga saat ini, menara GFRP telah dipasang di enam lokasi di Kalimantan dan Sulawesi.

Agus yakin penerapan GFRP akan berkembang jauh lebih masif ketika modelnya makin banyak dikenal dan ekosistem pabrikasi–manufaktur GFRP di dalam negeri makin matang.

Dia mengatakan tantangan utama dalam pengadaan GFRP saat ini adalah tingginya harga material akibat rantai pasok yang terbatas. Namun, seiring meningkatnya permintaan, harga diperkirakan akan makin kompetitif.

Ke depan, Agus mengatakan penggunaan GFRP akan diperluas secara bertahap, khususnya dalam urusan ekspansi menara-menara baru.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Latest in Business

See More