Jakarta, FORTUNE – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) membukukan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,1 triliun hingga kuartal III-2026, Jumat (30/10).
Capaian tersebut tumbuh 37,3 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama Bank BJB, Ayi Subarna, menyatakan konsistensi strategi dan kapabilitas adaptasi menjadi faktor penentu kinerja perseroan. Keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, pengelolaan risiko, dan profitabilitas tetap dijaga.
“Dengan mengedepankan tata kelola yang baik, prinsip kehati-hatian, dan orientasi pada kebutuhan nasabah, Bank BJB terus memperkuat fondasi bisnis agar mampu menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang industri perbankan,” kata Ayi dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (30/10).
Pendapatan bunga bersih bank daerah ini tumbuh 1,8 persen secara tahunan (YoY), sedangkan fee-based income mencapai Rp1,7 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026. Tekanan biaya dana dicermati seiring perkembangan suku bunga dan kondisi likuiditas.
Melalui pendekatan growth with quality, perseroan berfokus pada penyaluran kredit selektif, penguatan dana murah, pengelolaan biaya dana, peningkatan pendapatan komisi, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko.
Dari fungsi intermediasi, total kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp142,3 triliun, dengan penyaluran kredit bank only Rp112,9 triliun.
Secara kuartalan, outstanding kredit bank only bertambah Rp1,8 triliun dari kuartal sebelumnya.
Segmen konsumer menjadi penyumbang terbesar portofolio kredit bank only dengan outstanding Rp74,4 triliun atau 66 persen dari total kredit. Perluasan kerja sama payroll dan penyaluran kredit kepada institusi mitra terus dilakukan.
“Ekspansi dilakukan secara selektif pada sektor yang profil bisnis dan risikonya dipahami perseroan, antara lain aktivitas keuangan, pinjaman daerah, perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi,” kata Ayi.
Kualitas aset per September 2026 menunjukkan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,87 persen dan Loan at Risk (LAR) 9,92 persen.
Dari aspek pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi per September 2026 menyentuh Rp155,6 triliun, terdiri atas kontribusi perusahaan anak Rp31,4 triliun dan bank only Rp124,2 triliun.
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah 86,8 persen, dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) 44,9 persen.
Aktivitas akuisisi nasabah lewat pembukaan rekening baru melalui kanal digital berkisar 7.000-12.000 rekening setiap bulan untuk memperkuat porsi dana murah.
“Kanal tersebut terus dikembangkan untuk memudahkan akses layanan dan mendorong aktivitas transaksi yang diharapkan dapat meningkatkan kontribusi dana murah secara bertahap,” ujat Ayi.
Sebagai entitas pengendali yang membawahi tiga perusahaan anak perbankan dan dua lembaga keuangan nonbank, Grup BJB membukukan total aset konsolidasi Rp219,7 triliun per September 2026.
Perusahaan anak menyumbang aset Rp44,9 triliun atau 20 persen terhadap total aset konsolidasi.
