Jakarta, FORTUNE - Memanasnya konflik di Timur Tengah turut berdampak pada induatri barang mewah, serta berpotensi menekan kepercayaan konsumen.
Melansir Women's Wear Daily, sejumlah saham emiten barang mewah mencatat penurunan tajam pada Senin (3/3), di antaranya Compagnie Financière Richemont yang turun 5,7 persen menjadi 148,25 franc Swiss. Saham Kering merosot 5 persen menjadi 271,50 euro, diikuti Brunello Cucinelli yang turun 4,6 persen menjadi 78,58 euro.
Penurunan juga terjadi pada Burberry Group yang melemah 4,3 persen menjadi 11,13 pound, LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton turun 4,3 persen menjadi 520,50 euro, serta Hermès International yang terkoreksi 4 persen menjadi 1.967 euro.
Di Amerika Serikat, pergerakan saham di Wall Street juga cenderung melemah sepanjang hari, meskipun indeks S&P 500 akhirnya ditutup naik tipis 2,74 poin ke level 6.881,62. Beberapa perusahaan ritel dan kecantikan yang mencatat penurunan antara lain E.l.f. Beauty yang turun 11,3 persen, Estée Lauder Companies turun 8,5 persen, serta American Eagle Outfitters yang merosot 8,4 persen.
Sementara itu, Capri Holdings turun 5,1 persen dan Lululemon Athletica melemah 4,9 persen.
Analis RBC Capital Markets, Piral Dadhania, dalam laporannya menyebut bahwa konflik geopolitik berpotensi menekan saham sektor mewah karena permintaan produk premium sangat bergantung pada sentimen konsumen.
“Kami memperkirakan saham-saham akan berada di bawah tekanan karena permintaan barang mewah biasanya membutuhkan suasana yang positif, kepercayaan konsumen yang kuat, penciptaan kekayaan yang positif, serta arus perjalanan wisata yang stabil, semuanya kemungkinan terdampak negatif, setidaknya dalam jangka pendek,” tulis Dadhania.
Meski demikian, dampak terhadap industri barang mewah hanyalah bagian kecil dari konsekuensi konflik yang lebih luas. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi pemerintah. Konflik tersebut kemudian meluas ke sejumlah wilayah di Timur Tengah, termasuk Israel, Abu Dhabi, dan Dubai yang merupakan pasar konsumen penting bagi industri barang mewah.
Ratusan warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan dan serangan balasan antara Iran serta koalisi AS–Israel. Ruang udara komersial di kawasan tersebut juga ditutup, sementara sejumlah pangkalan militer Inggris dan AS di wilayah itu dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Menurut Dadhania, penguatan dolar AS pada akhirnya dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan tertentu seperti EssilorLuxottica dan Pandora, meskipun dampaknya terhadap sektor barang olahraga kemungkinan negatif dalam jangka waktu tertentu.
Bank tersebut juga mulai mengalihkan preferensi investasinya ke saham yang dianggap lebih defensif seperti Nike, EssilorLuxottica, dan Hermès, yang dinilai memiliki neraca keuangan kuat serta arus kas yang sehat.
Sebaliknya, perusahaan barang mewah seperti Swatch Group, Richemont, dan LVMH dinilai lebih rentan terhadap dampak konflik tersebut.
“Permintaan barang mewah sangat bergantung pada kepercayaan konsumen yang positif dan pandangan optimistis terhadap masa depan, serta pengalaman konsumsi yang lebih emosional daripada sekadar transaksi. Konflik, guncangan, ketidakpastian, dan rasa takut jelas tidak membantu dalam konteks ini dan dapat berdampak pada permintaan barang mewah dalam jangka pendek,” tulis Dadhania.
Ia juga menyoroti bahwa aktivitas masyarakat di Dubai menurun dalam beberapa hari terakhir karena banyak warga memilih tetap berada di dalam rumah.
“Lalu lintas di Dubai hampir tidak ada, dengan banyak penduduk tetap berada di dalam rumah dalam beberapa hari terakhir. Jika pembatasan ini berlanjut, hal tersebut dapat memengaruhi pendapatan di pasar konsumen terpenting di Timur Tengah,” katanya, menambahkan.
