Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Agrinas: Semua Produsen Lokal Sudah Diundang Sebelum Impor
Kantor pusat PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Menurut Direktur Utama Agrinas, para produsen otomotif lokal telah diberi kesempatan sebelum keputusan impor kendaraan dari India dilakukan.

  • Agrinas memilih impor karena mengklaim bakal terjadi efisiensi anggaran hingga Rp46,5 triliun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Agrinas Pangan Nusantara menanggapi polemik impor kendaraan niaga dari India yang dinilai meminggirkan industri otomotif domestik. Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menyatakan keputusan mengimpor 105.000 unit kendaraan murni diambil karena ketidaksanggupan produsen lokal memenuhi volume produksi dan standar harga yang kompetitif dalam waktu singkat.

Dalam konferensi pers virtual pada Selasa (24/2), Joao meluruskan narasi yang menyebut pihaknya menutup pintu bagi produk lokal. Ia menjamin seluruh pabrikan dalam negeri telah diundang dan diberikan kesempatan yang sama dalam proses pengadaan tersebut.

“Semua ada buktinya, ada fotonya, ada berita acaranya. Jadi bukan kami tidak mengundang. Justru semua produsen kami undang,” kata Joao.

Agrinas membeberkan data bahwa sejumlah raksasa otomotif seperti Astra, Isuzu, hingga Mitsubishi tidak mampu mengakomodasi kebutuhan produksi massal untuk periode April–Mei 2026.

Astra, melalui Toyota Hilux, hanya sanggup menyediakan 800 unit pada periode tersebut. Sementara untuk varian Hilux Rangga, kapasitasnya bahkan lebih terbatas, yakni hanya 400 unit per bulan.

Hal serupa terjadi pada Mitsubishi L300 yang hanya mampu memasok 750 unit per bulan, serta pabrikan Jepang Hino yang sanggup memproduksi 120 unit per bulan atau sekitar 400 unit dalam satu triwulan.

“Sebagian besar kapasitas mereka sudah terserap oleh MBG (Makan Bergizi Gratis) dan sektor pertanian yang sedang tumbuh. Mereka hanya mampu memproduksi 100.000 sampai 120.000 unit per tahun,” ujar Joao.

Selain kendala volume, isu harga menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi. Sebagai proyek nasional dengan pembelian dalam jumlah besar (bulk), Agrinas menuntut harga khusus. Namun, mayoritas produsen lokal tetap menawarkan harga satuan layaknya pasar reguler, dengan selisih mencapai 25 persen lebih mahal.

Joao menilai skema penawaran tersebut tidak masuk akal untuk pengadaan skala besar.

“Menurut saya itu tidak fair. Ini pembelian khusus untuk program nasional, tidak bisa disamakan dengan pasar biasa,” ujarnya.

Ketimpangan ini membawa Agrinas pada keputusan mengimpor dari India. Perinciannya, Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M) menyuplai 35.000 unit pikap Scorpio, sementara Tata Motors memasok 70.000 unit. Langkah ini diklaim mampu menyelamatkan anggaran negara dalam jumlah besar. Sebab, keputusan impor turut memberikan efisiensi anggaran hingga Rp46,5 triliun.

"Kalau harganya Rp700 juta per unit, potensi pembatalan pasti besar. Tapi kalau pengadaannya bisa lebih murah, rasanya sayang kalau tidak diambil,” kata Joao.

Kendati melakukan impor, Agrinas tetap melibatkan pemain lokal yang mampu bersaing. PT Mitsubishi Krama Yudha Motors and Manufacturing tetap menjadi mitra dengan menyuplai 20.600 unit Mitsubishi Fuso untuk Koperasi Desa Merah Putih.

Sebagai perbandingan pada level regional, produsen asal Cina, Foton, menyatakan kesanggupan menyuplai 13.500 unit Foton Aumark, jauh di atas kemampuan harian mayoritas pabrikan domestik saat ini.

Editorial Team