Jakarta, FORTUNE – PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan lonjakan produksi emas menjadi 43 ton pada 2028, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan target produksi tahun ini yang diperkirakan hanya 21 ton.
Kenaikan tersebut akan ditopang oleh pulihnya operasi tambang bawah tanah Grasberg serta peningkatan kapasitas penambangan secara bertahap hingga mencapai level normal.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan produksi tembaga pada periode yang sama ditargetkan mencapai sekitar 1,6 miliar pound.
"Kami memasuki 2027 ada peningkatan yang signifikan dari jumlah katoda dan juga jumlah emas yang dihasilkan," kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang disiarkan secara virtual pada Selasa (14/7).
Sebelum mencapai target tersebut, produksi Freeport diperkirakan masih berada dalam fase pemulihan. Pada 2026, perseroan menargetkan produksi sekitar 700.000 ounces emas atau sekitar 21 ton, dengan produksi tembaga sekitar 800 juta pound.
Target tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi produksi emas pada 2025 yang mencapai 26,5 ton, bahkan jauh di bawah capaian 2024 sekitar 52,7 ton. Penurunan ini terjadi karena Freeport masih melakukan peningkatan kapasitas (ramp-up) operasi tambang bawah tanah setelah gangguan operasional akibat longsor.
Tony menegaskan penurunan produksi pada 2026 hanya bersifat sementara. Pada 2027, produksi diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1 juta ounces emas atau setara 31 ton, bersamaan dengan produksi tembaga yang diperkirakan mencapai 1,2 miliar pound.
Peningkatan produksi tersebut didorong oleh kenaikan volume bijih yang ditambang. Freeport menargetkan produksi bijih mencapai rata-rata 170.000 ton per hari pada 2027, kemudian meningkat menjadi 208.000 ton per hari pada 2028.
Selanjutnya, pada 2029 kapasitas penambangan ditargetkan mencapai 226.000 ton bijih per hari, yang menurut perseroan merupakan kapasitas operasi normal atau setara 100 persen.
