Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
INDEF: Ekosistem Ojol Serap 5,53 Juta Pekerja dan Dongkrak Ekonomi
Driver ojol Gojek/Grab sedang menunggu order, suasana jalan ramai (linkedin.com/Louis R)

Jakarta, FORTUNE - Ekosistem ojek online (ojol) tak hanya menjadi sarana mobilitas masyarakat, tetapi juga menjelma sebagai salah satu penggerak pasar tenaga kerja nasional. Hasil riset terbaru yang dilakukan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Universitas Paramadina menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang tercipta dari sektor ini mampu menyerap hingga 5,53 juta tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kepala Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Muhammad Rizal Taufikurahman, menjelaskan angka tersebut merupakan gabungan dari tenaga kerja yang terlibat langsung sebagai pengemudi serta dampak berganda yang muncul di berbagai sektor pendukung.

"Totalnya rekrut tenaga kerja atau multiplayer terhadap tenaga kerja, hitungan kami dari dampak langsung dan dampak tidak langsung di angka 5,53 juta orang. Artinya ojek online ini cukup besar struktur tenaga kerja yang dibuat atau juga yang tercipta," ujar Rizal dalam pemaparan hasil riset bertajuk Mewujudkan Ekosistem Ojek Online yang Menyejahterakan, Berkelanjutan, dan Berkeadilan di Jakarta, Rabu (3/6).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penciptaan lapangan kerja dari ekosistem transportasi online terdiri atas 2,91 juta tenaga kerja langsung dan 2,62 juta tenaga kerja tidak langsung. Dengan kata lain, aktivitas para pengemudi turut memicu terciptanya peluang kerja baru di berbagai sektor ekonomi.

"Dari perhitungan kami, dampak tidak langsung yang tercipta dari aktivitas 2,91 juta pengemudi tersebut mencapai 2,62 juta tenaga kerja. Mereka tersebar di sektor UMKM, logistik, perdagangan, hingga berbagai sektor jasa pendukung lainnya," katanya.

Efek berantai bagi UMKM dan ketenagakerjaan

Dok. INDEF

Menurut Rizal, kontribusi transportasi online tidak berhenti pada penciptaan pekerjaan bagi para mitra pengemudi. Kehadiran platform ini juga memberikan efek berantai bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perusahaan logistik, sektor perdagangan, hingga berbagai layanan pendukung yang terhubung dengan aktivitas transportasi digital.

Temuan tersebut sejalan dengan sejumlah studi terdahulu yang menunjukkan bahwa setiap pengemudi transportasi online dapat memicu munculnya pekerjaan tambahan melalui aktivitas ekonomi yang dihasilkannya. Dalam berbagai literatur, satu pengemudi bahkan diperkirakan mampu menciptakan sekitar 1,6 lapangan kerja tambahan.

Lebih jauh, riset INDEF dan Universitas Paramadina menyoroti peran ojek online sebagai bantalan ketenagakerjaan, khususnya bagi masyarakat perkotaan dengan keterampilan rendah hingga menengah serta pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Di tengah dinamika pasar kerja yang terus berubah, sektor ini dinilai menjadi alternatif sumber penghasilan yang relatif mudah diakses.

Selain menopang pendapatan rumah tangga, ekosistem transportasi online juga berkontribusi dalam menjaga aktivitas ekonomi di tingkat lokal maupun nasional. Perputaran ekonomi yang tercipta dari layanan transportasi digital, pengantaran barang, hingga layanan pesan-antar makanan dinilai mampu memperluas efek ekonomi ke berbagai sektor pendukung.

"Artinya, ojek online memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap struktur ketenagakerjaan yang tercipta di Indonesia. Tidak hanya menciptakan pekerjaan secara langsung, tetapi juga memunculkan aktivitas ekonomi baru yang menyerap jutaan tenaga kerja di berbagai sektor," ujar Rizal.

Temuan ini menunjukkan bahwa peran ojek online kini melampaui fungsi transportasi semata. Di tengah tantangan ketenagakerjaan dan perlambatan ekonomi, ekosistem digital tersebut berkembang menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar yang menghubungkan jutaan pekerja dengan peluang ekonomi baru di berbagai lini usaha.

Dok. INDEF

Editorial Team

Related Article