Jakarta, FORTUNE - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana mengambil alih pengamanan Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai membuka babak baru eskalasi konflik yang juga berpotensi memengaruhi perdagangan energi global.
Dalam surat resmi kepada Kongres tertanggal 10 Juli, Trump menyatakan perlawanan terhadap Iran kembali dimulai sejak 7 Juli. Pemerintahannya menilai perkembangan itu membuka periode baru selama 60 hari yang memungkinkan penggunaan kekuatan militer tanpa persetujuan Kongres.
"Saya mengarahkan tindakan militer ini sesuai dengan tanggung jawab saya untuk melindungi warga Amerika Serikat serta kepentingan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat," tulis Trump dalam surat tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (14/7).
Surat itu juga menjelaskan kronologi kebijakan pemerintah AS, termasuk keputusan memberlakukan gencatan senjata selama dua pekan mulai 7 April yang kemudian diperpanjang, serta berbagai upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik. Namun, menurut Trump, Iran melanggar nota kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak pada 17 Juni setelah menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Sementara itu, di tengah meningkatnya konflik Trump justru mengumumkan rencana yang lebih jauh, yakni menjadikan Amerika Serikat sebagai pihak yang mengamankan Selat Hormuz. Sebagai kompensasi, Washington akan mengenakan biaya sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi jalur pelayaran tersebut.
"Kami akan menjadi penjaga Selat Hormuz," kata Trump dalam wawancara dengan program Fox & Friends, melansir Politico.
"Kami akan menyerang [Iran] dengan sangat keras dan mempertahankan selat itu, bahkan kemungkinan akan mengelolanya," ujar Trump.
Setelah wawancara tersebut, Trump kembali menegaskan kebijakannya melalui akun Truth Social. Ia menyebut seluruh negara tetap dapat menggunakan Selat Hormuz secara terbuka.
Namun, ia menambahkan bahwa, "demi keadilan, [Amerika Serikat] akan memperoleh penggantian biaya sebesar 20 persen dari seluruh kargo yang dikirim untuk menutup setiap biaya yang diperlukan dalam menjalankan tugas menjaga keselamatan dan keamanan di kawasan dunia yang sangat bergejolak ini."
Trump juga mengeklaim Amerika Serikat selama puluhan tahun telah menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut tanpa memperoleh kompensasi.
"Kami telah menjaga selat itu selama 50 tahun dan tidak pernah dibayar. Kami ingin mendapatkan penggantian biaya atas hal ini, karena kami menempatkan personel kami dalam bahaya," kata Trump.
